Danika menunduk mencari kotak obat di meja Dante. Dante memperhatikan saja, tidak berniat membantu. Belum sempat Dante bertanya lagi, terdengar telepon di depan kamar Dante berdering. Danika menoleh ke arah Dante yang masih duduk di kasur sedang bengong sambil memperhatikan dirinya.
“Angkat, gih! Lo nggak denger telepon bunyi? Kenapa tiba-tiba lo jadi budeg hari ini?”
Dante bangkit [...]
“Kapan belinya? Nih pilih salah satu, mendingan jahit aja di Butik ini. Ntar kalo mepet nggak keburu lho. Artis banyak lho yang ngantri minta dibikinin baju di situ. Belum lagi kalau ada selebriti mau nikah.”
Tyas memainkan bibirnya dengan ekspresi malas.
“Lo kenapa sih, Yas?”
“Nggak kenapa-napa. Gue cuma bingung. Pesta ntar gue pergi sama siapa? Dua minggu [...]
Itulah Danika, berminat pada banyak hal, mampu belajar dengan cepat, tapi segera merasa bosan. Seperti saat ini, tiba-tiba saja dia datang dan minta diajari main basket. Entah atas alasan apa, tapi Devon menyadari ada alasan kuat dibalik ini semua, karena biasanya Danika berminat pada sesuatu yang juga diminati dan dikuasai oleh Dante. Sedangkan untuk basket, [...]
“Udah, minggu lalu.”
Dante ber-O singkat.
“Pulang naik apa, Yas?”
“Bareng mobil Rasti.”
“Oh, oke deh, hati-hati ya. Salam buat Lana.”
Tyas mengangguk.
“Oke, thanks. Ntar gue sampaikan salamnya.”
“Thanks.”
Tyas meninggalkan Dante yang masih tersenyum dengan manisnya.
Danika yang sudah berganti pakaian kasual segera ke rumah Devon yang hanya berjarak beberapa rumah saja. Setelah dibukakan pintu oleh si Mbak, Danika langsung ngeloyor ke [...]
Danika hanya menyukai olah raga renang dan bersepeda. Itu saja! Kalau toh melakukan olahraga yang berhubungan dengan bola, beberapa kali dia ikut main bola sepak dengan Dante, Devon, dan beberapa anak tetangga di komplek mereka, dan dia hanya turun beberapa menit saja sebelum akhirnya diganti oleh pemain lain, alias sebagai penggembira tim saja. Tapi kalau [...]
“Nik, lo nggak papa kan? Siku lo berdarah tuh. Pulang aja deh, diobatin dulu!” Devon yang memang perhatian terlihat agak cemas.
Danika malah tidak mendengar ucapan Devon karena sibuk celingukan, khawatir ada orang lain yang melihat adegan jatuhnya tadi. Terutama si indo. Aduh, jangan sampai deh! Harapnya. Dan untungnya tidak ada orang lain di sana kecuali [...]
“Ya belum lah, kalo ada sih gue nggak bakalan pusing gini. Tau deh kalo si Dante.”
“Eh, gue…gue juga belum ada sih.” Dante juga tidak terlalu yakin apakah Lana bisa dijadikan targetnya mengingat sampai detik ini gadis itu selalu cuek padanya. Boro-boro ngobrol, membalas sapaan Dante aja sudah syukur banget.
“Gimana kalo kita cari orang yang bisa [...]
“Devon, udah deh! Dihukum, dihukum, apaan sih? Kita nggak sedang dalam masa hukuman.” Danika bangkit sambil membawa bantal dan ikutan selonjor di sebelah Dante.
“Trus kenapa dong mukanya pada kusut kayak baju belum disetrika gitu? Cerita dong! Kita kan tumbuh bersama, duka kalian adalah dukaku, masalah kalian adalah masalahku, bahagia kalian adalah….”
Danika menyambit kepala Devon dengan [...]
Kali ini Rasti yang menjawab.
“Kalau kita nggak datang trus kenapa?” Potong Danika sengit.
“Ya trus, bakal ada pengumuman di seluruh sekolah, kalau si kembar pecundang takut datang ke pesta, karena nggak punya pacar. Ralat, nggak bisa dapet pacar. Gimana?”
Danika menahan geram, sementara Rasti mengedipkan sebelah matanya dan berlalu pergi bersama Lana dan Tyas. Ingin rasanya dia [...]
Danika sedang menyuap baksonya ketika Dante datang dari arah belakangnya sambil menepuk keras pungungnya.
“Nik!”
Danika tersentak kaget. Untung bakso di tangannya belum masuk mulut, tapi jadinya malah terpental dari sendok dan menggelinding entah kemana. Yah, bakso terakhir gue….Danika manyun sebal.
“Ya ampun, Dan, apa sih? Lo pengen gue kesedak bakso?” Danika melotot antara kesal dan kaget.
“Ini gawat, [...]