Related Posts:Snow On The Sahara – Anggun C. SasmiSebelum Cahaya by LettoHuang Hun – Zhou Chuan XiongMichael Jackson – Ben (‘1972)The Final Countdown – Europe
Bangunan ini terbuat dari batu-batu gunung. Jedela-jendelanya besar. Di halamannya banyak ditumbuhi bunga berwarna-warni. Bangunan ini dikelilingi pagar yang tinggi. Rasanya tidak mungkin aku dan Arya memanjat pagar ini. Terlalu tinggi dan tidak ada pijakannya. Kami mencari cara.
Mungkin ini hari keberuntungan kami, kami menemukan pintu kecil untuk masuk halaman yag rupanya lupa dikunci. Aku dan Arya bergegas masuk. Kami mengendap-edap mengitari bangunan ini. Aku memanjat sedikit untuk mengintip jedela yang kuperkirakan bagian tengah rumah. Arya menunggu di bawah, karena pijakannya memang hanya muat untuk satu orang.
Aku mencari pegangan yang enak di bawah jendela. Selanjutnya kuangkat tubuhku supaya bisa mengintip bagian dalam rumah. Aku melihat ruangan besar yang lengang, hanya ada sebuah piano hitam yang besar dan sebuah sofa panjang. Lalu, aku juga melihat….seraut wajah!
“Woah!!” Aku menarik kepalaku menjauhi jendela. Peganganku seketika terlepas dan membuatku jatuh berdebam ke tanah. Arya yang kaget menghampiriku dengan cemas.
“Kamu kenapa, Wi? Kamu nggak papa?”
Aku meringis sambil mengangguk. Aku mendongak ke arah jendela, dan tiba-tiba muncullah seraut wajah yang melongok keluar.
Seraut wajah anak laki-laki seusia kami. Tidak sangat jelas, tapi menurutku tampan. Kulitnya sangat cemerlang. Arya juga melihatnya.
Kami sudah ketahuan oleh si empunya rumah. Arya membantuku berdiri dan menarik tanganku untuk meninggalkan tempat ini. Kami berlari menuju jalan belakang yang kami lalui tadi.
“Pengintaian kita gagal, kita ketahuan!” aku terengah-engah mengatur napasku yang rasanya nyaris putus karena lari seperti dikejar setan menuju rumah.
“Iya. Heh, heh!” Arya membanting tubuhnya di bale-bale di depan rumahku.
“Kamu perhatikan nggak seperti apa orang yang ada di jendela itu?” Tanya Arya setelah napasnya kembali normal.
“Ehmmmm…kayaknya sih sebaya kita deh. Sepertinya cakep.”
Arya melotot.
“Wah, jangan-jangan bener kataku. Ada pangeran tampan di Istana itu.”
Aku diam saja mendengar perkataan Arya. Tapi dalam hati aku terpengaruh ucapannya. Jangan-jangan memang iya.
“Besok kita kesana lagi!” Putusku tegas.
“Hah?? Mau ngapain? Kita sudah ketahuan.”
“Kita belum sempat menyelidiki bagian dalamnya. Lagian, penghuni rumah itu nggak akan mengira kita akan kembali.”
Arya diam. Itu tandanya dia setuju saja.
Malamnya aku sulit memejamkan mata. Mengingat kembali seraut wajah di jendela yang membuatku kaget pagi tadi, dan wajah itu melongok ke arahku dan Arya. Sebentar…kalau aku tidak salah lihat, sepertinya wajah anak laki-laki itu tersenyum sebelum kemudian menatapku heran ketika melihat aku terlentang di tanah. Berarti dia tidak jahat! Pangeran tampan yang baik hati diasingkan di istana batu. Aku nyengir sendiri memikirkan hal itu. Lalu aku terlelap.
*cerita seru,cerita remaja by TYKA DINARSASI
If you found this page useful, consider linking to it.
Simply copy and paste the code below into your web site (Ctrl+C to copy)
It will look like this: ISTANA DI KAKI LANGIT (2)
belum tentu tampan tuch.
mmg kudu diselidiki dengan jelas dulu. apalagi bisa ja kakinya kecil sebelah.
hehehe.
Kekekek..walopun kaki kecil sebelah kalo hati-na emas mah boleh juga loh..