Related Posts:Cerita Seru – KISAHKU (7)Cerita Seru – KISAHKU (5)Cerita Seru – KISAHKU (4)Cerita Seru – KISAHKUCerita Seru – KISAHKU (2)
Tidurku cukup nyenyak sampai pagi. Aku tidak memakan sarapanku. Singkong rebus buatan ibu kumasukkan plastik untuk sarapanku dan Arya nanti. Aku juga membawa teh limun kesukaanku. Begitu Arya datang, kami segera berangkat. Kami melewati kebun Pak Jamin. Pohon apel manalaginya sudah berbuah. Aku dan Arya mengambil beberapa dan langsung kabur.
Pagar kecil di halaman belakang bangunan batu itu digembok. Kami terpaksa melompatinya. Kembali kami mengendap-endap mengitari bangunan megah itu mencari celah untuk mengintip, dan masuk ke dalam. Ternyata sebuah jendela di ruang samping terbuka, kami memanjat temboknya dan masuk melalui jendela.
Aku dan Arya terbengong-bengong melihat isi ruangan itu. Ruangan yang sangat luas dengan beberapa perabotan sofa berukir dari besi, indah dan pasti mahal.
“Istana yang bagus.” Aku menggumam.
“Halo, selamat datang.” Sebuah suara dari arah belakang kami, membuat aku dan Arya terlonjak kaget. Arya beringsut cepat mendekatiku. Kami berdua menatap si penyapa kami dengan wajah takut sekaligus malu. Gawat, kami tertangkap!
Seorang anak laki-laki berusia 10 tahunan berwajah tampan dengan rambut lebat yang sangat hitam, berkulit pucat, duduk di atas kursi roda. Sebuah buku yang cukup tebal berada di pangkuannya. Mungkin dia suka membaca. Kalau begitu bisa saja dia juga suka mengkhayal sepertiku dan Arya. Anak itu tersenyum lembut kepada aku dan Arya. Membuat kami berdua tidak setakut tadi. Anak itu sepertinya ramah.
“Aku Valentine. Kalian siapa?” Tanya anak bernama Valentine itu sambil menggerakkan kursi rodanya mendekati kami.
“Aku Pratiwi, biasa dipanggil Tiwi. Ini sahabatku, Arya. Kamu pangeran Valentine?” Aku sudah merasa rileks menyambut uluran tangan Valentine.
Valentine menatapku bingung sambil mengernyitkan dahinya. Kedua alis tebalnya seperti saling bertautan.
“Maksudmu?”
“Kamu Pangeran Valentine yang tinggal di Istana batu ini, kan?” Tanyaku lagi.
Valentine tergelak. Suaranya yang menggema ke seantero ruangan terdengar lucu. Aku dan Arya saling berpandangan. Bagian mana dari ucapanku yang terdengar lucu? Jangan-jangan anak itu gila? Atau dia seorang penyihir pria jahat yang menyamar menjadi bocah cacat? Bukankah tokoh jahat selalu suka tertawa seperti raksasa meski tidak ada yang lucu!
“Namaku Valentine, aku bukan seorang pangeran. Dan vila ini bukan sebuah istana.” Ujarnya setelah tawanya mereda.
Aku dan Arya menatapnya dengan bingung. Masa sih?
Tiba-tiba dari arah dalam, seorang pria paruh baya dan wanita 40 tahunan datang tergopoh-gopoh ke ruangan ini.
“Den Valentine ketawa? Ketawa sama siapa?” Keduanya menatap Valentine, berganti ke aku dan Arya dengan wajah heran. Aku dan Arya spontan saling mendekat dengan waspada.
*Cerita Remaja,Cerita Seru,CerpenFiksi by TYKA DINARSASI
If you found this page useful, consider linking to it.
Simply copy and paste the code below into your web site (Ctrl+C to copy)
It will look like this: ISTANA DI KAKI LANGIT (3)
lam knl…km pinter ngarang ya…
kunjungn pertama nih
Lam kenal juga..makaci dah mampir
duh, aku salah berhitng nih
cerita nya bagus banget,salam kenal ya mas
#Ari
lulur bali’s last blog post..Sabun Natural V-Spa
@Afrid, apanya mas yg salah diitung?
@Ari, Salam kenal juga mas..makaci udah mampir
salam kenal mas,
mampir perdana disini wah blognya kren banyak tv onlinenya hmmm
Sukses Slalu!