Related Posts:Menjaring Traffic Gratis – Forum MarketingMenjaring Traffic Gratis – Yahoo AnswerMenjaring Traffic Gratis – Mybloglog MarketingMenjaring Traffic Gratis – Article MarketingMenjaring Traffic Gratis
Bukannya aku menganggap diriku begitu tingginya, tapi aku hanya belum ingin menikah saat ini. Itu saja. Aku merasa banyak yang bisa kudapatkan di usia mudaku, pengalaman, pekerjaan dan masa depan yang lebih baik. Tapi di desaku ini, gadis sebayaku sudah menikah semua dan bahkan sudah punya anak. Arya, sahabat setiaku, juga belum menikah. Tapi dia berniat menikah segera setelah dia punya cukup tabungan dan punya calon yang mantap. Saat ini dia hanya bekerja sebagai satpam di sebuah pabrik dekat desaku.
Aku semakin rajin berdoa, berharap Rusdi batal melamarku. Atau kalau memang ternyata aku berjodoh dengannya, aku ingin Valentine datang menghadiri pernikahanku. Menjadi saksi pada hari di mana aku akan menjadi Putri sehari. Seperti Arya yang telah berjanji akan mendampingi aku menjelang hari pernikahanku nanti.
Rencananya Rusdi dan orang tuanya akan datang hari Sabtu malam untuk melamarku secara resmi sekaligus membicarakan hari pernikahan kami. Itu artinya hari-hari pemasungan kebebasanku, begitu aku menyebutnya, akan segera datang. Arya beberapa kali menghiburku dan mencoba memberi pengertian agar aku menerima pernikahan itu dengan ikhlas.
Hal yang agak menghiburku, mas Dika, kakak tunggalku yang tinggal di Sulawesi sejak menikah 9 tahun lalu dengan gadis sana, juga akan menghadiri pernikahanku. Dia akan datang bersama istri dan anaknya. Aku senang sekali akan bertemu dengan kakakku yang memang sangat jarang datang kemari.
Pfuihh…seandainya waktu bisa diputar ulang, aku sangat ingin kembali ke masa kecilku, tepat 8 tahun lalu, saat aku dan Arya menjadi petualang kecil, serta saat dimana kami bertemu sang pangeran kecil. Dan aku ingin tetap di sana, tidak pernah menjadi dewasa.
Aku mengeluh dalam hati….
Suatu sore mendekati hari kedatangan Rusdi dan keluarganya, aku membantu ibuku mengecilkan kebaya pengantin miliknya yang masih disimpan untuk hari pernikahanku. Untung kakakku laki-laki, jadi kebaya itu menjadi milikku. Kebaya putih itu terlihat anggun meski potongan dan gayanya sederhana saja.
“Ibu dan ayahmu dulu juga menikah muda, dijodohkan orang tua. Tapi kami bahagia, dan seperti kamu lihat. Semuanya sejauh ini baik-baik saja.”
Aku manyun. Memangnya sejarah harus berulang lagi? Jaman ayah dan ibu menikah kan sudah belasan tahun lalu. Sekarang jamannya sudah beda. Meski mas Dika juga menikah di usianya yang masih 19 tahun, tapi aku tetap belum bisa menerima konsep menikah muda. Mungkin sebenarnya bukan konsep ‘menikah muda’ yang kuributkan, permasalahannya adalah dengan siapa aku menikah. Aku yakin penyebabnya karena aku tidak sepenuhnya mencintai Rusdi.
“Tiwi, cinta itu bisa datang belakangan. Cinta yang sebenarnya itu tumbuh setelah pernikahan. Kalau kita melihat pasangan kita baik, bertanggung jawab dan sangat menyayangi kita, maka lama-kelamaan kita bisa benar-benar jatuh cinta padanya. Cinta itu aneh, nak.”
Ibu seperti tahu apa yang kupikirkan. Cinta itu aneh! Apa ada yang lebih aneh dari nasibku saat ini? Yahh…terserahlah, aku berharap perkataan Ibu benar. Mungkin kelak aku bisa mencintai Rusdi setelah kami menikah. Semoga.
Tok, tok, tok…
Aku mendengar suara ketukan di pintu depan.
*cerita seru,cerita remaja by TYKA DINARSASI
Discussion
No comments for “ISTANA DI KAKI LANGIT (7)”
If you found this page useful, consider linking to it.
Simply copy and paste the code below into your web site (Ctrl+C to copy)
It will look like this: ISTANA DI KAKI LANGIT (7)
Post a comment