Related Posts:Cerita Seru – KING OF RULES (4)Cerita Seru – KING OF RULES (5)Cerita Seru – KING OF RULES (2)Cerita Seru – KING OF RULES (8)Cerita Seru – KING OF RULES (10)
“Permisi.” Suara pria. Aku segera bangkit menuju depan.
Seorang pemuda berusia awal 20, sangat tampan, jangkung dan bertubuh bagus dibalut setelan kaos lengan panjang berwarna hitam, sewarna celananya. Kontras dengan kulitnya yang sangat cemerlang. Aku tertegun melihat pemuda itu. Siapa dia? Mirip seseorang.
“Halo Tiwi. Kok bengong. Kamu tidak ingat aku? Valentine.”
“Hah!” Aku menutup mulutku dengan ekspresi kaget. Aku bahkan diam saja ketika Valentine mendekat. Aku kehilangan kata-kata. Banyak hal bercampur aduk di kepalaku, kaget, heran, bingung, sekaligus senang luar biasa.
“Prince Val?”
Pemuda di hadapanku memberi hormat ala seorang pangeran. Dia memang Valentine. Tapi kenapa dia tidak duduk di kursi roda? Tanpa sadar aku menatap kakinya.
“Aku sudah sembuh.” Valentine menjawab masih dengan senyum terkembang.
Aku memeluknya, Valentine juga memelukku erat.
“Aku sangat merindukanmu. Kamu pergi begitu saja, seperti ditelan bumi.”
Valentine terkekeh. Terdengar begitu lucu ditelingaku, tawanya berbeda dengan terakhir yang kuingat. Mungkin karena dia kini sudah dewasa.
Aku melepas pelukanku, takut ada yang melihat.
“Maafkan aku pergi tanpa sempat pamit denganmu dan Arya. Semuanya serba tiba-tiba. Aku mejalani operasi untuk kakiku di Jerman. Setelah itu aku harus berjuang melakukan terapi selama beberapa tahun. Papa habis-habisan membiayai upaya kesembuhanku.”
Aku membimbing Arya duduk.
“Bahkan vila batu di puncak bukit itu harus kami jual kepada paman untuk menambah biaya pengobatanku. Paman sendiri ingin meminjami kami, tapi Papa menolak. Jadi vila itu sebagai jaminan. Paman tidak sekali pun menempati vila itu karena vila itu memang berarti sekali untukku.”
Valentine menarik napas dalam, seperti berusaha menguasai dirinya. Aku menepuk-nepuk tangannya lembut.
“Ketika aku benar-benar sembuh, Papa yang jatuh sakit. Sejak 5 tahun lalu aku membantu Papa menjalankan usahanya. Sekarang segalanya membaik. Papa juga sudah membeli kembali vila batu itu dari Paman. Dan, inilah akhirnya.”
Valentine tersenyum lucu. Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku sangat bahagia temanku yang lama menghilang ini kembali lagi. Tuhan mengabulkan doaku.
“Tapi…Arya marah padamu. Dia…”
“Sekarang sudah enggak kok. Prince Val tetap seorang pangeran yang tampan dan baik hati.” Arya tiba-tiba muncul di pintu sambil tersenyum.
“Arya?”
“Aku menemui Arya lebih dulu sebelum menemui kamu. Kami sudah bicara banyak.”
Aku benar-benar bahagia sekarang. Arya sudah memaafkan Valentine yang kini sudah kembali.
“Kamu akan hadir kan kalau aku menikah nanti?” Aku memandang Valentine dengan sedih, bukannya berbahagia mengabarkan rencana pernikahanku.
“Tentu saja aku hadir. Kan aku mempelai prianya.”
“Hahh?” Aku memandang Valentine bingung. Aku mencari kerlingan jenaka di matanya, seperti kebiasaannya yang sulit disembunyikan kalau sedang bercanda. Tapi wajahnya terlihat serius. Kenapa dia bilang begitu?
Valentine mengeluarkan kotak kecil dari sakunya. Dia membukanya. Sebuah cincin dari emas putih dengan mata berlian yang berkilauan.
“Maukah kamu menjadi mempelai wanitaku?”
*cerita seru,cerita remaja by TYKA DINARSASI
If you found this page useful, consider linking to it.
Simply copy and paste the code below into your web site (Ctrl+C to copy)
It will look like this: ISTANA DI KAKI LANGIT (8)
thanks for sharing bro