Related Posts:Cerita Online – Sang Rubah (17)Cerita Online – Sang Rubah (18)Cerita Online – Sang Rubah (15)Cerita Online – Sang Rubah (14)Cerita Online – Sang Rubah (20)
Sejak aku dan Saga pulang bersama, Saga jadi lebih berani menunjukkan kedekatannya denganku di sekolah. Tapi tentu saja di luar jam kelas. Saga jadi jarang bolos dan kabur dari kelas. Rupanya Ibu Mutia memperhatikan perkembangan kami.
“Sepertinya kamu sudah dekat dengan Saga. Aku melihat perkembangan positif dari perilaku dan nilai sekolah Saga.” Suatu kali Ibu Mutia menghampiri mejaku.
Aku jadi salah tingkah.
“Eh, iya Bu. Saya harap saya bisa membantu apa pun untuk kebaikan Saga sejauh bisa berdampak positif untuk perkembangan perilaku maupun catatan akademisnya.”
“Saya tahu itu. Rupanya kamu berbakat menjadi guru konseling ya.” Ibu Mutia mengedipkan matanya padaku, membuatku semakin salah tingkah. Entah apa maksud beliau, memuji atau menggodaku. Semoga Ibu Mutia tidak salah sangka mengenai kedekatanku dan Saga.
Sore ini mendung. Awan yang abu-abu pekat membawa butiran air yang akan tercurah dari langit sebentar lagi. Aku gelisah dari tadi. Mungkin karena cuacanya buruk seharian ini, atau mungkin karena seharian ini aku tidak bertemu Saga.
Mungkin cuaca yang buruk dan kegelisahan hatiku merupakan sebuah pertanda. Bukankah perasaan manusia dan alam bisa saling berkaitan? Entahlah, yang jelas pertanda itu menjadi sebuah kenyataan dengan adanya kabar yang kuterima dari Ibu Mutia. Ibu Saga mengabarkan kepada pihak sekolah bahwa Saga sedang koma di Rumah Sakit.
Jantungku bergemuruh mendengar berita itu. Seperti sebuah sambaran kilat yang diiringi ledakan yang dahsyat menghantam sebuah pohon besar dan berhasil menumbangkannya.
Semalam Saga mengalami kecelakaan. Sebuah mobil menghempaskan tubuh Saga ketika remaja itu tiba-tiba muncul berlari di jalan. Seperti kebiasaannya yang tiba-tiba muncul dan pergi. Petaka itu membuat Saga mengalami pendarahan otak.
Operasi sudah dilakukan pagi ini, tapi Saga masih koma. Kalau sampai besok belum ada perkembangan, ada kemungkinan Saga akan dibawa ke luar negeri untuk menjalani pengobatan lebih intensif. Atau entah apa pilihan lainnya bila membawa tubuhnya melintasi benua tidak memungkinkan.
Setelah aku mendapat kabar itu, tiba-tiba aku merasa seperti dunia berputar dan mendadak gelap. Untungnya aku bisa segera menguasai diri dan tidak sampai pingsan.
Aku, Ibu Mutia, beberapa guru serta beberapa teman sekolah Saga menjenguknya siang ini. Aku ijin untuk tinggal sampai semua guru dan siswa pulang.
Aku memperhatikan wajah muda yang pucat itu. Banyak selang di tubuhnya membuatku sangat sedih. Apakah aku akan kehilangan Saga?
“Anda bu Ranti?”
Aku menoleh, melihat seorang wanita ayu berusia akhir 30-an berambut panjang, sedang berdiri menatapku dengan mata sedihnya.
Aku mengangguk.
“Saya Mira. Ibu Saga. Saga pernah bercerita tentang Anda. Dia senang mengenal Anda.”
Wanita itu mengusap matanya yang basah. Aku berusaha keras supaya tidak ikut menangis.
“Saga itu remaja yang istimewa. Saya senang mengenalnya. Sangat senang. Saya berdoa untuk kesembuhannya.” Ucapku pelan.
“Terima kasih. Saya permisi dulu.” Ibu Saga permisi meninggalkanku dengan terburu-buru karena dia semakin sedih melihat putranya terbaring diam di dekatku.
*cerita seru,cerita remaja by TYKA DINARSASI
If you found this page useful, consider linking to it.
Simply copy and paste the code below into your web site (Ctrl+C to copy)
It will look like this: Cerita Seru – Remaja ITU Bernama SAGA (12)
Artikelnya bagus dan menarik uyy..
hehehe..
ngomng2 silahkan berkunjung ke BLOG HEBOH dan berkomentar ria ya, soalnya BLOG HEBOH make sistem Dofollow
Oh iyah satu lagi gabung jadi pengikut saya yah..
Di tunggu yah kedatangannya,.
Rendy BlogHeboh “Blog Dofollow”’s last blog post..Jadilah Top Commentator di Blog Heboh dan Dapatkan Backlink Gratis
Ok mas..makaci udah mampir