Related Posts:Cerita Online – Sang Rubah (22)Cerita Online – Sang Rubah (10)Cerita Online – Sang Rubah (8)Cerita Online – Sang Rubah (25)Cerita Online – Sang Rubah (21)
“ Mau kemana malam-malam begini ? “
“ Membawa sayuran ini ke kenalan saya di desa dekat Sperrin. Mungkin pelanggannya masih mau membeli sisa jualan saya. Pelanggannya lebih banyak. “
“ Kenapa malam-malam ? “
“ Kebiasaan petani, tuan. Kalau siang sayuran akan mudah layu atau rusak. Tuan lihat truk tua saya tidak punya penutup yang bisa melindungi sayuran saya dari cuaca. “
Petugas itu terdiam. Masuk akal juga alasan si petani. Tapi dia belum merasa puas. Rasanya ada yang mengganjal hatinya. Entah semacam firasat atau sekedar rasa tidak enak karena udara malam yang tidak ramah di awal musim dingin ini.
Menunggu, biarpun cuma semenit, rasanya tidak enak dan seperti tidak akan pernah berakhir. Lambat sekali waktu berjalan. Jonathan menanti jawaban dengan debaran-debaran aneh di hatinya. Lebih keras dari sebelumnya, tetapi bukan karena rasa takut. Dia tegang tapi cukup sadar resiko pekerjaannya. Dia sudah menghitung. Cuma ada enam orang petugas patroli. Yang satu di dalam jeep sedang berkomunikasi. Yang dua memeriksa mobil yang tadi lebih dulu sampai, dua lagi berjaga-jaga, orang terakhir sedang dihadapinya ini. Kalau terpaksa, Jonathan merasa harus berbuat apapun untuk menyelamatkan ‘paket’nya. Tapi sebisa mungkin jangan ada kekerasan, walaupun dia yakin bisa mengatasi keadaan, tapi kalau sampai terjadi bentrokan fisik disini, orang-orang pusat pasti akan mengirim regu yang akan melakukan operasi pembersihan. Dan akibatnya bisa sangat tidak menyenangkan. Bisa saja orang tidak bersalah ikut kena cekal semua. Padahal hampir semua petani disini masih tetangga atau kerabatnya juga.
Tiba-tiba petugas itu melompat naik ke truk. Belum habis kaget Jonathan petugas itu mulai menusuk-nusukkan sangkurnya ke kotak-kotak kentang yang terlalu besar dan berat untuk diangkatnya. Jonathan terbatuk karena jantungnya yang mendadak memukul hebat.
“ Oh, tuan. Ampun. Kali ini saya tidak bisa menjualnya dengan harga baik.” Jonathan hampir menangis.
Petugas itu berhenti dan menatap tajam padanya.
“ Beberapa jam lalu orang-orang terhormat yang memperjuangkan masa depan negeri ini tewas diledakkan. Yang lainnya luka-luka serius. Dan kamu masih memikirkan keuntungan. Dasar orang Irlandia tolol,” umpatnya.
“ Maaf. Maaf, tuan. Saya juga mendengar berita itu. Sungguh sayang ternyata ada yang tewas. Saya tidak mengerti pergolakan. Saya cuma tidak suka kekerasan.”
Petugas itu menggerutu dan menusuk-nusukkan lagi sangkurnya. Kali ini lebih dalam dan keras. Jonathan merasa sesak napas karena otot perutnya yang mengejang tegang.
“ Tapi…tapi seharusnya pelakunya sudah keluar dari kota sejak pagi tadi.” Jonathan berlagak berkata pada dirinya sendiri tapi dibiarkannya cukup keras untuk terdengar oleh petugas itu. Berhasil karena si petugas berhenti. Sebenarnya hal itu sudah terpikir olehnya. Mereka sudah bertugas sejak pagi dan menangkap beberapa orang yang mencurigakan. Ia sudah lelah dan ragu bila pelaku peledakan itu menunda untuk keluar kota sampai selarut ini. Siapa pun ia tidak akan mengambil resiko mengambil perjalanan malam yang patrolinya tiga kali lipat lebih banyak daripada siang hari.
Jonathan bernapas lega ketika si petugas melompat turun dari bak truknya.
“ Bawa surat-suratmu. Ikut aku !” Perintah si petugas. Jonathan tersenyum senang, bergegas ke depan mengambil surat-suratnya di ruang kemudi. Ia lalu mengikuti si petugas. Sebetulnya hampir tak tertahan ingin bersenandung saking leganya, tapi itu akan mencurigakan sekali.
*cerita online, cerita seru
Discussion
No comments for “Cerita Online – Sang Rubah (16)”
If you found this page useful, consider linking to it.
Simply copy and paste the code below into your web site (Ctrl+C to copy)
It will look like this: Cerita Online – Sang Rubah (16)
Post a comment