Related Posts:Cerita Seru – KING OF RULES (6)Cerita Seru – KING OF RULES (5)Cerita Seru – KING OF RULES (10)Cerita Seru – KING OF RULES (2)Cerita Seru – KING OF RULES (3)
Jonathan tersenyum. Lega.
“ Oke, tuan, saya pilihkan yang paling baik. “
Jonathan mengambil satu kotak letucce, semacam selada yang nampak hijau segar. Lalu menyerahkannya pada si petugas yang menerimanya suka cita. Setelah itu Jonathan bisa pergi tanpa gangguan apapun lagi.
“ Sampai lain kali, “ Jonathan memberi salam sambil menjalankan truknya melewati para petugas patroli itu. Semoga sakit perut….
Jonathan melanjutkan perjalanan ke arah pegunungan Sperrin. Tapi kali ini ia sama sekali tidak tenang. Si rubah terluka. Itu mengganggunya.
Tiga mil dari tempat pemeriksaan itu Jonathan tidak dapat lagi menahan perasaannya dan menghentikan truk di tepi jalan yang lengang. Ia membiarkan lampu dan mesin mobil menyala lalu bergegas ke belakang dengan senter di tangan. Jonathan melompat ke atas bak truk sayurnya dan melangkah hati-hati diantara kobis dan wortel yang tercabik-cabik bekas tusukan sangkur petugas tadi. Ia tiba di dekat kotak kentang yang panjang dan terbuat dari kayu.
“ Fox…,” desisnya cemas dan mulai meraup beberapa kentang yang dilemparnya ke dasar bak truk.
Tiba-tiba sebuah bisikan menghentikannya. Jonathan memasang telinga. Suara itu terdengar lagi. Bening dengan Aksen Gaelic yang kental. Si rubah !
“ Jangan berhenti. Teruskan perjalanan.”
Jonathan menghembuskan napas lega. Setidaknya ia masih hidup, pikirnya.
“ Petugas menghentikan truk. Aku berhasil mengelabui mereka.” Ia ikut berbisik meskipun yakin tidak ada siapa pun selain dirinya dan si rubah di situ.
“ Aku tahu. Teruskan perjalanan.”
“ Anda terluka.” Jonathan mendekatkan wajahnya ke tumpukan kentang.
“ Aku tidak apa-apa. Teruskan. Hampir tengah malam.”
Jonathan berdebar bersemangat. Mengangguk.
“ Aku akan kembali ke depan. Kurang dari dua jam lagi kita akan tiba di Sperrin.”
“ Terima kasih,” bisikan itu terdengar lagi. Jonathan melompat turun dengan perasaan melambung. Sepanjang jalan berikutnya ia banyak bersiul dan bernyanyi saking girangnya. Ini pengalaman besar baginya. Ia bukan saja bertemu dengan sang legenda. Ia terlibat dalam penyamaran dan bahkan berbicara dengannya.
Sosoknya memang tidak meyakinkan bagi Jonathan tetapi ia sudah melihat ketangguhan anak itu. Ia bahkan tidak ingat mendengar satu keluhan pun waktu petugas patroli itu menusuk-nusukkan sangkurnya. Mudah-mudahan tidak parah. Jonathan berjanji untuk segera melupakan wajah dan suara si rubah setelah ini. Ia hanya akan menyimpan kenangannya saja. Semua untuk keselamatan perjuangan.
Hampir tengah malam ketika truk tua itu terseok memasuki area luas ladang sayur dan bunga-bunga rumput liar yang memenuhi punggung lereng-lereng bukit Sperrin. Dusun Sperrin sudah terlihat. Rumah-rumah dengan kilat lampu kecil kerlap-kerlip seperti kunang-kunang dalam pekat malam.
Memasuki dusunnya, truk tua itu langsung menuju rumah besar di ujung desa. Ada truk yang lebih besar dan memadai telah menanti. Juga beberapa pria yang sekilas nampaknya seperti petani kebanyakan. Jonathan memarkir truknya disisi truk lain yang sudah menanti. Dia turun tergesa sambil menyeka wajahnya yang lembab.
“ Kami sudah kuatir. Anda terlambat dari jadwal pak Swift. “ Cemas seorang pria berperawakan liat berumur empat puluhan dengan cambang lebat yang rapi. Dia si penjual koran di Derry itu.
“ Ada banyak patroli. Tapi yang terakhir tadi nampaknya merusak ‘paket’ kita. “ Jonathan berkata sambil membongkari truknya dibantu para pria yang sudah menantinya. Wajah mereka langsung tegang begitu mendengar paket itu terusik.
“ Menurut anda rusak berat atau hanya lecet saja ? “ Mereka bercakap seakan membicarakan sebuah benda. Takut ada yang menguping.
“ Saya tidak tahu. “
Mereka segera menemukan kotak kentang yang ukuran kemasannya tiga kali kotak sayur lainnya.
“ Bawa kedalam. Kita periksa, kalau masih layak, baru kita kirimkan. “ yang seorang berkata sambil menarik kotak itu. Si cambang yang nampak paling kokoh posturnya menerima dan mengangkat kotak itu dibantu Jonathan.
“ Hati-hati, pak O’Hara.” Jonathan berkata pada si cambang lebat.
Mereka masuk kedalam rumah dengan tergesa.
*cerita online,cerita seru
Discussion
No comments for “Cerita Online – Sang Rubah (18)”
If you found this page useful, consider linking to it.
Simply copy and paste the code below into your web site (Ctrl+C to copy)
It will look like this: Cerita Online – Sang Rubah (18)
Post a comment