Hosting Murah! Mulai dari 3000 perak sebulan..daftar di sini!
 

// you’re reading...

Random Post

Search Engine VS Directory

Related Posts:Peringkat Situs di Mata Search EngineLink Building for Fun – Freelinkbuildingtools.comMenjaring Traffic Gratis – ‘Killer’ RisetSearch Engine Optimization tutorialMenjaring Traffic Gratis – Yahoo Answer

Sang Rubah

Cerita Online – Sang Rubah (20)

“ Maafkan saya, tuan. Tapi petugas patroli itu tidak bisa saya cegah. “ Jonathan berkata dengan menyesal begitu Oliver selesai dengan pekerjaannya. Jonathan mengulurkan baju bersih pada si Rubah.
Si Rubah menatap Jonathan.
“ Bukan salahmu, pak Swift. “ jawabnya dengan suara jernih dan halus.
Jonathan menjadi lega mendengar perkataan pemuda itu. Dia kemudian membantu pemuda itu mengenakan pakaian bersihnya. Baju murah dari linen tebal berpotongan longgar. Motifnya tartan hijau muda dan gelap. Pemuda itu langsung terlihat segar dan menarik. Warna itu padu dengan kulit dan matanya yang pucat.
Sambil mencoba bangkit berdiri, si rubah menyeka peluhnya lagi. Bukan kepanasan itu keringat dingin akibat nyeri hebat yang dirasakannya. Tidak ada obat penawar rasa sakit di dusun kecil ini.
“ Apakah McNamara sudah keluar dari Londonderry ? “ dia bertanya pada Oliver kemudian.
“ Dia berangkat siang tadi, kurasa saat ini dia sudah tiba di Belfast. “
“ Tuan, saya dengar akan ada pembersihan di Londonderry dan Belfast. Apakah perjalanan ke Belfast itu keharusan. Kami bersedia mengantar ke perbatasan Republik “ Salah seorang petani itu berkata.
“ Semuanya terserah para pemimpin gerakan. Kami masih diperlukan di basis utama kita. “ Oliver menjelaskan. Pandangannya sekilas menangkap sesuatu dari cara si rubah menatap. Dia tidak boleh berbicara terlalu banyak. Oliver maklum dengan isyarat itu.
“ Anda memerlukan apalagi, tuan ? “ rekan Jonathan yang lain bertanya.
“ Apa yang kalian lakukan sudah cukup. Terima kasih. “ Si rubah menjawab.
Jonathan dan yang lain menatap si rubah dengan perasaan berbunga-bunga yang aneh. Memang sulit buat dipercaya, orang yang hidup dengan banyak kekerasan itu ternyata begitu santun dan halus dalam berkata-kata. Jelas terlihat selain karisma dan keberaniannya, pemuda itu menyimpan banyak potensi. Pantas saja dia selalu lolos dari setiap operasi pembersihan.
Oliver yang cekatan tampak serius dan terencana. Ia memeriksa jam tangannya lalu memandang pada si rubah.
“ Kita bisa berangkat sekarang, Fox ?”
Si wajah malaikat mengangguk. Oliver segera mengisyaratkan pada yang lain untuk menyiapkan truk. Dia sendiri membimbing si rubah ke sebuah kotak lain. Membaringkan pemuda itu di dasar kotak lalu menutupnya dengan karton tipis sebelum menimbunnya dengan serat-serat linen berwarna gelap.
“ Anda bisa bertahan sampai pagi, Fox ? Truk tua ini tidak bisa berlari dan kita tidak akan berhenti.”
“ Aku baik-baik saja,” sahutan dari dalam kotak linen itu.
Semua menegakkan tubuh dengan tegang. Sudah saatnya bergerak lagi. Oliver O’Hara menatap pada Jonathan dan kawan-kawannya.
“ Kami berangkat.”

Dublin, Republik Irlandia – keesokan harinya.

Kamar hotel dengan paduan desain Georgian kuno dan sentuhan modern yang menyatu itu lengang. George sudah bangun sejak setengah jam yang lalu tapi tetap berbaring di balik selimut sambil menatapi istrinya yang masih lelap di sisinya.
Caroline berbaring nyaman dengan kepala di atas bahu George. Itu yang membuat George tidak segera bangkit. Ia tidak ingin membangunkan si mungilnya.
Ia begitu cantik, pujinya dalam hati. Perlahan digerakkannya jarinya menyentuh pipi Caroline yang halus. Sempurna. Ia bahkan tidak berubah sedikit pun sejak enam tahun terakhir. Semuanya. Kulitnya yang halus. Rambutnya yang indah. Sikapnya yang tetap angin-anginan kadang manja kadang sangat mandiri. Ia bisa tampil matang dan seksi dan sedetik kemudian berceloteh dengan mata berbinar seperti anak kecil. Ia bisa mengerti harus berpisah dengan suaminya untuk waktu yang lama karena tugas-tugas kerja. Tapi tak jarang mengeluh dan mengomel panjang pendek hanya karena tidak ditemani makan.
George tersenyum. Tapi bukankah itu yang membuatnya tergila-gila pada Caroline? Juga wajahnya yang seperti remaja putri itu. Setiap saat ia memandang wajah cantik dengan hidung kecil itu ia tidak dapat menahan diri untuk mengakui keberuntungannya. Usia mereka terpaut hampir duabelas tahun. Caroline mempunyai segala yang bisa membuat seorang pria ingin memilikinya. Dan si cantik ini memilih dirinya. Wartawan tua yang tidak kaya.
Kau memang si tua yang beruntung. George mentertawakan dirinya sendiri. Ia tidak tua sebenarnya tapi itu yang dirasakannya kalau melihat wajah jernih istrinya.
Si tua yang beruntung. Ia suka pekerjaannya meskipun tidak membuatnya jadi hartawan. Dan ia memiliki Caroline. Hidupnya sempurna. Tiba-tiba senyum George memudar. Kecuali satu hal.

*cerita online,cerita seru

Related Blogs

 Internet Marketing Indonesia

Discussion

No comments for “Cerita Online – Sang Rubah (20)”

If you found this page useful, consider linking to it.
Simply copy and paste the code below into your web site (Ctrl+C to copy)
It will look like this: Cerita Online – Sang Rubah (20)

Post a comment

CommentLuv badge

Comments links could be nofollow free.

Batik Keren Customer Service

Don't worry, no animals was harmed!

Cute Cats & Dogs

News Letter

Terima Artikel-Artikel Menarik Otomatis dan Gratis.

E-mail:

Tags