Related Posts:Cerita Seru – KISAHKU (7)Cerita Seru – KISAHKU (5)Cerita Seru – KISAHKU (6)Cerita Seru – KISAHKU (3)Cerita Seru – KISAHKU
Mereka sudah mulai memikirkan untuk mempunyai anak bahkan sebelum mereka melangsungkan pernikahan. Mulanya mereka menganggap ini cuma soal waktu. Mereka belum beruntung. Dan lagi George sedang sibuk sementara Caroline pun mulai menanjak karir menulisnya. Mereka menundanya.
Tapi kemudian Caroline memutuskan melepas pelindung hampir setahun yang lalu.
George menghela napas merasakan beban dan rasa bersalah di hatinya. Ia belum punya cukup keberanian untuk mengecewakan Caroline.
Tiga minggu yang lalu ketika sedang bertugas meliput berita di Sacramento ia iseng menemui seorang dokter yang kemudian memvonis dirinya tidak mungkin memiliki keturunan. Ada kelainan pada dirinya yang telah dijelaskan berulang-ulang oleh dokter itu tapi tidak juga dapat dimengertinya. Apa yang salah yang telah dilakukannya selama ini ? Ia makan makanan sehat. Ia berolahraga teratur dan hidup dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik. Darimana datangnya kelainan itu ?
George mengeluh dalam hati. Ia tidak bisa menyimpan ini selamanya dari Caroline. Istrinya itu seperti menangkap sesuatu dari dirinya. Mungkin juga dari perubahan sikap yang tidak ia sadari akhir-akhir ini. Ia makin ketakutan berpisah dengan Caroline. Dan ia selalu mencari jalan untuk selalu berada bersama istrinya itu. Seolah-olah ini adalah detik-detik terakhir hidupnya bersama kecintaannya itu. Suatu saat Caroline akan mendengar kenyataan bahwa ia tidak mungkin memiliki keturunan dengan dirinya. Mungkin saat itu Caroline meninggalkannya.
Kali ini George mengeluh terlalu keras yang kemudian disesalinya. Caroline menggeliat kecil. Lengannya yang mungil bergerak merangkul pinggang George.
“ Selamat pagi,” sapanya tanpa membuka mata.
“ Selamat pagi di Dublin, sayang.” George mencium keningnya. Caroline membuka matanya yang langsung segar. Baru tersadar ini adalah pagi pertamanya jauh dari rumah mereka yang hangat di Los Angeles.
Caroline menegakkan punggungnya bertumpu pada siku dan memandang wajah George di depannya. Pria baik yang disayanginya menatapnya dengan senyum dan mata birunya yang indah.
“ Hmm. Eropa dan dirimu. Aku merasa segar.” bisiknya.
George tersenyum mengusap rambut Caroline yang berjuntaian di bahunya yang sempit.
“ Apa yang menarik di sini ?” Suara Caroline terdengar seperti suara anak-anak daripada wanita. George meringis. Saatnya main-main.
“ Perempatan, kebun binatang…”
“ Ngawur !” Caroline memukul bahu George yang tertawa geli melihat tampangnya. ” Aku tidak akan jauh-jauh kemari untuk melihat kebun binatang dan perempatan.”
“ Ini serius. Harcourt street, Merrion square, St. Stephen Green, Phoenix Park dan kebun binatang adalah tempat-tempat terkenal di Dublin. Atau kamu mau melihat arena pacuan kuda ?”
“ Beri pilihan yang lebih klasik dan romantis dong,” rajuk Caroline.
“ Mmh…” George berpikir sebentar.” Abbey theatre, Trinity College…Tidak ada yang tidak klasik dan romantis di Irlandia, manis. Kamu bisa keluar ke jalan dan melihat gedung Bank of Ireland yang dulunya adalah gedung parlemen kuno. Semuanya menyimpan sejarah yang romantis.”
“ Ok.Ok. Aku akan ke perempatan-perempatan katamu itu, tapi aku tidak akan ke kebun binatang. Pacuan kuda boleh juga. Kau akan mengantarku ? Oh, jangan katakan kau sudah harus mulai kerja hari ini.”
*cerita online,cerita seru
Discussion
No comments for “Cerita Online – Sang Rubah (21)”
If you found this page useful, consider linking to it.
Simply copy and paste the code below into your web site (Ctrl+C to copy)
It will look like this: Cerita Online – Sang Rubah (21)
Post a comment