Related Posts:Peringkat Situs di Mata Search EngineMenjaring Traffic Gratis – Article MarketingInternet Marketing Indonesia – Adsense (4)Internet Marketing Indonesia – Adsense (3)Internet Marketing Indonesia – Adsense (5)
Jalan St. Joseph, salah satu yang bisa dicapai lewat labirin itu. Daerah pinggiran Belfast ini, situasinya tak beda dengan kebanyakan daerah pinggiran di kota manapun di dunia. Padat, agak sumpek tapi masyarakatnya saling kenal satu sama lain. Tidak banyak kendaraan bermotor, lebih banyak sepeda atau truk-truk tua pengangkut sayuran dan ternak dagangan. Toko-toko yang ada pun bukan super store yang biasa dijumpai di kota-kota besar. Di daerah ini, toko yang tersedia gayanya sangat khas dan nampak agak kuno. Tapi bagi turis atau warga pendatang, itulah istimewanya daerah ini. Seperti masuk ke kota tua yang berseting tahun seribu delapan ratusan.
St. Joseph adalah salah satu jalan utama yang punya banyak lorong di kiri kanan badan jalannya. Kebanyakan penghuninya adalah pedagang dan pengusaha kedai minuman. Restoran dan toko kelontong mudah ditemui disini, berderet dari ujung ke ujung. Di salah satu sudut jalan, ada sebuah kedai minum. Evan’s. Tempat minum paling populer di areal ini. Tempatnya tidak sangat luar biasa, tetapi suasananya lebih modern dan tempatnya lapang. Ditambah lagi pemiliknya, Daniel Evans adalah pria yang ramah dan suka mengobrol dengan pelanggan dan pengunjung kedainya. Makanannya selalu segar dan enak. Stoutnya terbaik dan kopinya juga dicampur dengan tepat. Banyak keluarga-keluarga konvensional condong mampir kemari daripada ke kedai minum lain.
Sean Wilde, pria muda seratus tujuh puluh lima senti. Perawakannya sedang tapi bahu dan lengannya kuat. Berkulit agak terlalu pucat tetapi berkilat sehat dengan ekspresi wajah yang polos. Dia sedang sibuk mengatur kursi-kursi di dalam kedai sambil sesekali berhenti untuk mengelap meja yang dilihatnya kurang bersih. Kedai belum buka sampai pukul sepuluh pagi nanti. Masih ada waktu tiga puluh menit untuk berbenah. Keringatnya menetes meskipun udara di luar cukup dingin, tapi dia tekun dengan apa yang dikerjakannya. Tidak berhenti untuk mengelap keringatnya dan tetap bersemangat melakukan pekerjaannya.
“ Hah, kau sudah datang rupanya.” Suara serak Daniel Evans membuat Sean berpaling. Lalu tersenyum lebar. Menatap pria separuh baya berambut kelabu yang tubuhnya agak kelewat tambun itu berjalan lambat memasuki kedai. Dia baru datang.
“ Pagi, pak Evans. “ Sean menyapa akrab.
“ Pagi, nak. “ Daniel menarik sebuah kursi lalu duduk, meluruskan kakinya yang agak kaku termakan rematik. “ Kupikir kau baru akan masuk besok. Hari ini Dick sudah kusuruh masuk. Apa yang membuatmu cepat-cepat kembali dari kampung ? “
Sean kini sedang mengelap meja bar. Pandangannya tertuju pada permukaan kayu meja tinggi itu.
“ Di desa keluargaku baik-baik saja. Ternyata sakit pamanku tidak separah yang kuperkirakan. Jadi, kuputuskan cepat-cepat kembali. “
“ Keluargamu tidak keberatan kamu tinggal di Belfast ? “
Sean menatap Daniel sambil melipat lapnya. Menyeka keringatnya sedikit.
“ Mereka lebih suka aku tetap sekolah dan tinggal di Selatan. Tapi aku kan harus tahu diri. Mereka cuma keluarga jauh dan bukan pula orang yang mampu. Disini tidak terlalu buruk, pak Evans. “
Daniel Evans membesarkan matanya, “ Bah ! Kalau disini tidak terlalu buruk, kau mau menyamakan kekacauan ini dengan apa ? “ Dia terdiam sebentar. Sean bisa melihat kesedihan di wajah laki-laki tua itu. Dia tahu sebabnya, dan itu juga yang membuatnya sering memikirkan majikannya. Laki-laki itu sebatang kara. Anak laki satu-satunya gugur disini sekitar delapan tahun yang lalu. Sampai sekarang Daniel masih menyesali kematian anaknya. Meskipun begitu dia tidak menyesali keputusan Ronie, anaknya itu karena ikut kelompok gerakan bawah tanah.
“ Aku percaya tidak selamanya akan seperti ini.” Sean berkata terbata dengan suaranya yang jernih. Daniel mengangkat wajahnya menatap pemuda itu.
“ Aku merasa itu sungguh-sungguh akan terjadi, pak Evans. Kedamaian di Bumi Irlandia. “
Daniel tertawa kecil melihat kesungguhan di wajah pegawainya itu.
“ Dan kau berniat ikut ambil bagian dalam mewujudkan kedamaian itu, nak ? “
Sean tidak segera menjawab, seperti takut ditertawakan jawabannya, tetapi dia mengangguk pelan akhirnya.
Daniel menarik nafas dalam. Tujuannya mulia, tapi Sean ikut berperang ? itu diluar nalarnya. Dia mencari kata-kata yang tepat agar tak menyinggung pemuda itu. Akhirnya,
“ Aku tahu keinginanmu untuk ikut berjuang, Sean, dan aku menghargai harapan muliamu, tapi kau harus ingat kamu bukan prajurit. Mungkin semangatmu tinggi, nak. Tapi mereka membutuhkan orang-orang yang tangguh secara fisik mau pun mental. Jadi lupakan impianmu ikut gerakan bawah tanah. Dan hati-hati berbicara, bisa-bisa kau ditangkap kalau salah omong. “
*cerita online,cerita seru
If you found this page useful, consider linking to it.
Simply copy and paste the code below into your web site (Ctrl+C to copy)
It will look like this: Cerita Online – Sang Rubah (27)
cerita yang seru
Makaci udah mampir mas
Sepertinya kalo dibuat ebook bagus tuh, jadi ceritanya nyambung terus, ini masukan aja
web design companies’s last blog post..The End of the Mos
Betul sekali mas..makaci banyak masukannya..makaci juga udah mampir..kekekke
menarik…
musti dikemas dalam bentuk yang lebih eye catching lagi nih kak…
bersemangat2… ^_^