Hosting Murah! Mulai dari 3000 perak sebulan..daftar di sini!
 

// you’re reading...

Random Post

Cerita Online – Sang Rubah (12)

Related Posts:Cerita Online – Sang Rubah (22)Cerita Online – Sang Rubah (9)Cerita Online – Sang Rubah (13)Cerita Online – Sang Rubah (7)Cerita Online – Sang Rubah (10)

Sang Rubah

Cerita Online – Sang Rubah (29)

Sean menggeleng, tersenyum tipis tapi tidak menyahut.  Daniel menghembuskan napas keras, tak habis pikir. Ia heran kenapa bukan si Dick saja yang punya penyakit macam-macam biar jarang masuk. Dia pegawai yang hanya datang di akhir pekan dimana pengunjung lebih banyak dari biasa. Sekali dalam seminggu saja, tapi sudah cukup membuat Daniel gerah. Dick lamban dan mata duitan. Dan ia tahu Dick agak memusuhi Sean sejak anak itu tinggal di sini. Meskipun tidak pernah terang-terangan di depannya, dan Sean juga tidak pernah mengaku padanya, Daniel tahu Dick telah memberikan saat-saat sulit buat Sean.
Sebetulnya ia ingin memecat pekerjanya yang satu itu kalau saja tidak merasa punya kewajiban untuk mempekerjakan sesama orang Katolik. Dick juga tidak melanjutkan sekolah atau punya kegiatan lain kalau tidak bekerja di Evan’s. Dan lagi Dick dulu teman sekolah anaknya yang sudah dikenalnya sejak kecil.
Saat itu terdengar suara-suara ribut di luar menarik perhatian mereka. Sean bergegas ke depan untuk melihat dari balik kaca pintu. Daniel mengikutinya di belakang.
Dari arah ujung jalan terlihat mobil-mobil bak mengangkut petugas polisi khusus dengan seragamnya yang khas melintasi jalan.
“ Pasukan Protestan,” desis Daniel.” Ada apa ini ? Pembersihan lagi ?”
Sean tidak menyahut. Mata hijaunya tak berkedip memperhatikan mobil-mobil itu lewat di depan terus ke arah tikungan yang membawa ke daerah pinggiran kota. Daerah kantong-kantong penduduk asli Irlandia yang kebanyakan beragama Katolik atau Presbyterian. Ketika rombongan itu berlalu Sean membalikkan badan, menghela napas sambil menyandarkan diri di pintu.  Daniel yang memperhatikan menepuk bahunya dan mengisyaratkan untuk kembali ke bar.
Sean tidak membuka mulut lagi dan menyibukkan diri dengan biji-biji kopi yang akan digilingnya. Daniel mengawasinya dari jauh dengan prihatin. Ia mendengar tentang peledakan di Derry yang membuat gubernur dan para petinggi Inggris kebakaran jenggot karena telah menewaskan beberapa tokoh penting mereka. Biasanya setelah aksi seperti itu mereka akan melakukan apa yang mereka sebut ‘pemeriksaan’ yang pada kenyataannya adalah pembersihan atau balas dendam karena seperti biasa mereka akan gagal menemukan pelaku yang mereka cari. Apalagi dari desas-desus semalam ia mendengar kemungkinan pelakunya adalah si rubah. Siapa bisa menangkap si rubah ?
Daniel tahu Sean sangat ingin melakukan sesuatu untuk Irlandia. Anak itu sedih setiap kali melihat aksi pemeriksaan di kampung-kampung sementara ia tidak dapat berbuat banyak untuk mencegahnya.
Dia ingat menemukan Sean delapan tahun yang lalu di sebuah sudut jalan. Kurus, pucat dan mengidap pneumonia karena terlalu lama berkeliaran di jalanan yang dingin dan lembab. Masih bagus anak itu tidak mati beku waktu musim dingin panjang.
Sean tidak bicara selama seminggu dan tidak bisa menelan apa pun kecuali bubur dan susu hangat yang khusus dibuatkannya. Lambat laun karena perawatannya anak itu mulai kuat dan mempercayainya. Rupanya orangtua dan kakak lelakinya terbunuh dalam pertikaian antar kelompok garis keras. Dan malangnya ia yang masih hidup justru jadi kecurigaan bagi pihak keamanan. Sean dan beberapa pemuda di sekitar itu diciduk dan menjalani pemeriksaan selama beberapa minggu. Karena tidak ada bukti apa pun dia mengetahui sesuatu akhirnya beberapa dari mereka dilepaskan lagi. Sejak itu Sean berkeliaran di jalan sampai ia menemukannya.
Daniel tidak tahu dan tidak mau menanyakan apa yang terjadi selama masa penahanan itu. Yang diketahuinya Sean terus menerus mengalami mimpi buruk. Suatu hari di masa yang sibuk ia menginap di sepen dekat dapur dimana Sean tinggal. Tengah malam ia terbangun karena gerakan-gerakan gelisah Sean. Lalu ia melihat pemuda itu tersentak bangun dengan mata basah. Mungkin itu semacam trauma. Daniel tetap berpura-pura tidur dan tidak pernah menyinggung-nyinggung hal itu. Cukup baginya untuk tahu mengapa Sean sering membongkar-bongkar gudang atau membelah kayu perapian malam-malam. Biasanya ia tidak bisa tidur lagi sampai pagi.

Martin Stewart menurunkan sedikit kaca mobil membiarkan asap rokoknya mencari jalan keluar. Matanya menatap tajam aktifitas polisi-polisi khusus yang memeriksa rumah-rumah dan kedai di seberang jalan. Wajahnya biasa-biasa saja. Tidak terlalu tampan dengan dahi tinggi dan rambut hitam lurus yang menipis. Kecuali sinar matanya yang hitam tajam dan garis dagu serta bibirnya yang kearab-araban yang membuatnya tampak lebih menarik. Tampak seperti dokter atau pengacara yang serius tapi tidak berbahaya.
“ Mengapa kita berhenti di sini, Pak ?” Orang yang mengemudikan mobil di sisinya bertanya. Lebih muda dengan kulit wajah dikotori bontol-bontol pigmen. Dia seorang agen, anak buah Martin. Si wajah tak berbahaya itu memang seorang kepala operasi agen khusus Inggris.
“ Firasat,” jawabnya pendek. Anak buahnya memalingkan wajah menyembunyikan senyum kecil yang tidak bisa ditahannya. Martin melirik sekilas ke spion atas.
“ Kenapa ? Kamu tidak percaya firasat ?” tanyanya terus terang.

*cerita online,cerita seru

Related Blogs

 Internet Marketing Indonesia

Discussion

No comments for “Cerita Online – Sang Rubah (29)”

If you found this page useful, consider linking to it.
Simply copy and paste the code below into your web site (Ctrl+C to copy)
It will look like this: Cerita Online – Sang Rubah (29)

Post a comment

CommentLuv badge

Comments links could be nofollow free.

Batik Keren Customer Service

Don't worry, no animals was harmed!

Cute Cats in Dress

News Letter

Terima Artikel-Artikel Menarik Otomatis dan Gratis.

E-mail:

Tags