“ Kadang-kadang. Tapi aku selalu berusaha mengikuti logikaku. Bukankah itu termasuk yang penting dalam pelajaran di akademi ?”
Martin menggerakkan ujung mulutnya. Mungkin ia tersenyum tadi, tapi wajahnya tetap serius dan datar.
“ Itu juga yang kupelajari. Tapi sekali waktu aku merasa menemui jalan buntu, aku mengandalkan firasat. Persis seperti hewan yang terjepit.”
Si wajah bontol menoleh tapi tidak menyahut. Dia tahu apa yang membuat frustasi semua agen di Irlandia utara. Si rubah dan kelompoknya itu. Empat tahun mereka sudah mengalami beberapa perputaran tugas dan penggantian anggota-anggota lama dengan yang baru dan segar. Tidak ada yang menyentuh si rubah. Bahkan tidak mendekatinya.
Dia belum terlalu lama di Belfast. Hampir satu tahun lalu ketika Martin ditugaskan di tanah ini ia merasa pasti Martin akan memilihnya. Mereka sudah bekerja di kelompok yang sama cukup lama di tanah Inggris. Tapi ternyata baru tiga bulan lalu Martin memanggilnya bergabung.
Dia masih bersemangat dengan pengejaran ini, tapi kenyataan bahwa tidak ada kemajuan berarti yang mereka peroleh memang sering sangat mengecewakan.
Dia semacam menyukai tugasnya ini. Bersama Martin dia mengumpulkan data tentang gerakan IRA. Rasanya seperti mereka benar-benar mengenal Atlas, si pemimpin yang sering mengirimkan pesan blak-blakan pada aksi-aksi brutalnya. Lunar, yang beraksi di luar negeri. Dan si rubah yang anggun tetapi tidak kurang menjengkelkannya. Mereka mengirim pesan lewat kematian. Teroris sejati. Seperti juga Martin yang jadi panutannya, Luke si wajah bontol begitu membenci sampai mencintai mereka. Dan dia sedih bila Martin mulai terpuruk dalam kekecewaan yang membuatnya putus asa seperti hari ini. Tapi ia akan terus bersamanya, meskipun pekerjaan hari ini adalah pekerjaan firasat.
Memang tidak ada lagi yang dapat dilakukan kecuali menurutkan insting. Setelah mereka gagal menemukan gelandangan yang dengan tololnya mereka biarkan berkeliaran di sekitar hotel di Derry kemarin. Gelandangan yang menurut saksi mata telah mengeluarkan senapan dari balik mantel panjangnya dan membantai konvoi. Juga mobil curian di seberang jalan itu yang tidak menuntun penyelidikan kemana pun. Dan stand koran kaki lima di halte yang sebagian besar korannya adalah koran-koran bekas. Satu-satunya saksi mata yang berada begitu dekat dengan orang yang diduga si rubah, dan masih hidup, adalah si sopir limusin. Dan dia tidak tahu apa-apa kecuali bahwa mata orang itu berwarna hijau. Memangnya mereka akan menangkap semua orang bermata hijau di seluruh Irlandia utara ?
Luke menghela napas tanpa suara, kembali memperhatikan sekelilingnya dan sesekali pada wajah Martin yang selalu datar dan serius.
Sebenarnya saat itu Martin tidak lagi memperhatikan polisi-polisi yang mulai bersiap pergi. Mata hitamnya menyipit memperhatikan ke jalan setelah perempatan di depan.
Herald McKenzie melangkah agak menunduk. Badannya yang kecil dan tidak terlalu tinggi terbalut jaket tebal membuatnya tampak jauh lebih muda ketimbang umur sebenarnya yang sembilanbelas tahun. Tangan kanannya memantul-mantulkan bola di aspal seirama dengan langkahnya yang tidak cepat tidak juga lambat. Rambutnya yang coklat lurus sudah terlalu panjang di bagian depan menutupi sebagian wajahnya yang menunduk, menyembunyikan mata birunya yang bergerak waspada menyapu sekelilingnya.
Ia melihat mobil-mobil patroli di jalan depannya. Juga mobil sedan bagus yang berhenti di seberang jalan dimana polisi-polisi khusus itu beraksi. Tidak bagus. Ia cepat tanggap dan memutuskan untuk berbelok ke kanan saja di tikungan depan itu nanti. Ia lebih baik berputar agak jauh daripada mengambil resiko melewati zona pemeriksaan.
Jantungnya berdebar. Dan dia merasa aneh karenanya. Ini cuma pengiriman regular. Dia sudah pernah melalui masa yang jauh lebih menegangkan dari ini. Rasanya tidak ada alasan untuk takut atau khawatir. Semua akan berjalan mulus seperti biasa.
Tangan kanannya memantulkan bola lebih tenang seiring dengan ia memperlambat langkahnya mencoba tampak lebih santai. Tangan kirinya tetap tersembunyi di balik saku jaketnya, kadang-kadang bergerak naik meraba benjolan keras di bagian dalam jaketnya. Paket. Peluru khusus yang tertanam di bagian dalam jaketnya. Dia seperti mengenakan jaket besi ksatria kuno. Cuma kali ini besi itu melapisi mesiu.
Kelompok mereka mendapatkan pasokan senjata dan amunisi dari rekan-rekan dan simpatisan di Amerika atau negara lain lewat perbatasan Republik atau Skotlandia. Tiap kali paket itu tiba keesokan harinya Oliver menemuinya dengan jaket-jaket baru yang sangat berat yang harus dikirimnya ke titik-titik di seputar Belfast dimana rekan-rekan lain sudah menunggu. Tempat-tempat pertemuannya selalu berubah-ubah, begitu pula orang yang menerimanya.
*cerita online,cerita seru
If you found this page useful, consider linking to it.
Simply copy and paste the code below into your web site (Ctrl+C to copy)
It will look like this: Cerita Online – Sang Rubah (30)
wah dahsyat ceritanya. terim kasih