Related Posts:Cerita Seru – VALENTINE SI KEMBAR (Cinta Bikin Gubrak!) – 3Cerita Seru – VALENTINE SI KEMBAR (Cinta Bikin Gubrak!) – 4Cerita Seru – VALENTINE SI KEMBAR (Cinta Bikin Gubrak!) – 5Cerita Seru – VALENTINE SI KEMBAR (Cinta Bikin Gubrak!) – 6Cerita Seru – VALENTINE SI KEMBAR (Cinta Bikin Gubrak!) – 2
Tidak semua dikenalnya, tapi mereka semua mengenalnya. Mereka memanggilnya McKenzie si martir kecil. Padahal dia sudah tidak kecil lagi sekarang.
Bertahun-tahun dilaluinya ini telah menjadi tugas rutin yang membosankan. Tapi mengapa hari ini terasa lain ?
Herald tiba di perempatan dan mengambil belokan ke kanan sebagai ganti berjalan lurus. Ia terus menunduk dan memainkan bolanya. Perhatiannya ke polisi-polisi khusus yang mulai bersiap meninggalkan tempat itu. Dia tidak melihat mobil sedan bagus di seberang jalan tadi bergerak pelan meninggalkan tempat itu.
Sebenarnya Martin telah memerintahkan Luke untuk menjalankan mobil pelan-pelan dan mengikuti pemuda kecil yang memainkan bola itu.
“ Firasat lagi ?” tanya Luke. Martin mendengus, mestinya tersenyum, tapi wajahnya tetap serius seperti biasa.
“ Tidak. Kamu pikir berapa umur anak itu ?” tanyanya. Luke menyipit memperhatikan. Agak terlalu jauh, tapi dia bisa mengira-ngira dari tinggi dan perawakan anak itu.
“ Empatbelas…Limabelas tahun…” Nada suaranya seperti bertanya apa hubungan usia anak itu dengan kecurigaan Martin.
“ Mengapa pikirmu dia tidak ada di sekolah jam segini ?”
Luke diam. Pemerintah Inggris membebaskan biaya sekolah semua anak sampai usia enambelas tahun. Dia mulai mengamati lebih teliti dan yakin anak itu lebih tua dari usianya. Tapi tetap tidak menemukan alasan untuk mencurigainya.
“ Kamu mengenal daerah ini, Luke ?”
“ Ya.” Luke mengangguk, terus berpikir. Itu yang disukainya pada Martin. Pelajaran. Dia mendapatkan pelajaran di setiap saat bekerja bersama atasannya itu.
Martin membiarkannya berpikir. Beberapa saat ketika ia melihat perubahan di mata Luke ia mengangguk senang.
“ Terus ikuti dan perlahan mendekat. Lihat reaksinya.”
Luke baru sadar bahwa bola itu adalah penyamaran yang buruk, kalau mereka benar dengan kecurigaan mereka. Dalam radius lima mil mereka tidak akan menemukan tanah lapang atau lahan kosong yang bisa dipakai bermain bola. Kemana kira-kira anak laki-laki itu menuju ? Atau mungkin saja anak itu akan mempermainkan bolanya sepanjang jalan aspal saja. Seperti anak-anak yang sering main perang-perangan di sepanjang jalan dan gang karena tidak ada rumah yang memiliki halaman di daerah seperti ini. Mereka akan mengikuti terang-terangan dan melihat reaksinya.
Herald sudah menikung ke kiri lagi ke jalan yang lebih sempit ketika ia mulai merasa diikuti. Dia tidak akan menoleh seperti orang yang curiga. Dia memantulkan bolanya lebih keras dan memutar tubuhnya seperti anak kecil yang bermain-main menangkap bolanya dengan gaya. Satu putaran cukup untuk mengenali sedan bagus itu yang kini hanya beberapa puluh meter di belakangnya.
Dia tidak suka. Dia tidak suka mobil bagus berada di jalanan sempit seperti ini. Tidak suka mobil itu merambat pelan di belakangnya. Terlalu tidak biasa. Pasti ada yang tidak benar.
Otak dan naluri yang terasah cepat terpicu memikirkan cara meloloskan diri dari situasi itu. Tapi apa ? Dia tidak akan berlari karena yakin orang-orang itu pasti punya senjata. Dan mereka tidak akan berpikir panjang untuk menembak orang yang dicurigai sekarang. Apalagi sejak ledakan di Derry kemarin. Tapi dia juga tidak akan menunggu sampai mereka benar-benar turun dari mobil dan meringkusnya dan menemukan ratusan peluru di dalam jahitan jaketnya. Pikir. Cepat. Alarm di kepalanya berdentang ribut membuat napasnya jadi lebih cepat dan wajahnya memucat seketika.
Sekuat tenaga ditahannya dirinya untuk tidak lari ke ujung jalan dan meloloskan diri di labirin gang-gang di blok depannya. Dia tahu semua seluk-beluk kota dengan baik. Tapi siapa tahu mereka juga. Tidak boleh mengambil resiko itu. Dia tidak peduli keselamatannya. Peluru-peluru ini mahal. Oliver O’Hara selalu mengingatkan dia untuk menyayangi peluru. Gunakan pisau, kapak, bahkan garpu kalau perlu. Tapi peluru ? Satu peluru. Satu nyawa. Jadi dia harus tampak tenang. Heran boleh. Setiap anak akan heran kalau diikuti mobil seperti itu. Tapi jangan panik.
Herald sesekali sengaja menoleh terang-terangan dan memasang wajah heran melihat mobil itu yang terus berjalan lambat di belakangnya.
Martin menatap pemuda itu dengan tatapan lurus. Dia memikirkan sesuatu. Mengikuti kata hatinya. Merangkai-rangkai dan meramal kira-kira apa yang akan terjadi jika dugaannya benar. Reaksi yang harus dihadapinya pada keadaan tak terduga.
“ Jalan ini menuju kemana ?” tanya Martin.
“ Ada tiga kemungkinan. Ke jalan utama yang menuju tengah kota, ke stasiun kereta, dan daerah bekas St.Patrick lama.”
Diam. Lalu hampir bersamaan keduanya mendesis.
“ St. Patrick…! ”
*cerita online,cerita seru
Discussion
No comments for “Cerita Online – Sang Rubah (31)”
If you found this page useful, consider linking to it.
Simply copy and paste the code below into your web site (Ctrl+C to copy)
It will look like this: Cerita Online – Sang Rubah (31)
Post a comment