Pengen punya situs tapi bingung bikinnya? Pengen punya situs INSTANT? Klik sini!
 

// you’re reading...

Random Post

Cerita Seru – VALENTINE SI KEMBAR (Cinta Bikin Gubrak!) – 5

Related Posts:Cerita Seru – VALENTINE SI KEMBAR (Cinta Bikin Gubrak!) – 6Cerita Seru – VALENTINE SI KEMBAR (Cinta Bikin Gubrak!) – 4Cerita Seru – VALENTINE SI KEMBAR (Cinta Bikin Gubrak!) – 3Cerita Seru – VALENTINE SI KEMBAR (Cinta Bikin Gubrak!)Cerita Seru – VALENTINE SI KEMBAR (Cinta Bikin Gubrak!) – 8

Sang Rubah

Cerita Online – Sang Rubah (33)

Sesaat berdiri menyapukan pandangannya ke sekeliling tempat itu. Tumpukan kotak-kotak kayu yang biasa dipanjatnya untuk naik ke atas tembok masih ada di tempatnya. Susunannya tidak berubah.
Herald pergi ke tumpukan kotak itu dan mulai memanjat. Dia bisa melakukannya dengan mudah dengan satu tangan tetap memegang bolanya. Bola ini menemaninya dalam berpuluh-puluh tugas berbahaya dia tidak akan membuang dan menggantinya dengan yang baru.
Tinggi tembok itu tiga meter. Kalu berada di puncaknya dia bisa melihat sampai jauh ke seberang sungai. Di sana adalah bagian belakang deretan bangunan kantor tua. Tapi dia tahu rekan-rekannya tidak datang dari arah sana. Bangunan-bangunan itu tidak memiliki pintu dan halaman belakang. Hanya tembok-tembok berlumut yang tertanam di sepanjang badan sungai. Teman-temannya mungkin mencapai tempat ini dengan mengambang di papan dari arah timur.
Herald tiba di puncak tembok. Dia baru akan mengangkat badannya ketika pemandangan di depannya nyaris menghentikan denyut jantungnya. Di bawah tebok, tepat di bawahnya sekarang sesosok tubuh pria tergeletak miring. Kepalanya agak terputar sehingga matanya yang terbuka menatap ke arahnya. Entah dari bagian mana tubuhnya tetapi cairan merah menggenang lebar di bawahnya sehingga kelihatannya dia seperti berbaring di atas tumpahan saus merah yang mengerikan. Lengan kanannya yang tertindih tubuhnya agak tergantung di bibir semen tempat dia tergeletak. Cairan merah yang mengalir ke jari-jarinya yang terkulai menetes-netes ke air sungai satu meter di bawahnya.
Dia mengenali orang itu karena pernah bertemu beberapa kali di tempat-tempat yang berbeda. Dia yakin orang itu sudah tewas sekarang. Herald merasa nyeri di jantungnya. Kematian dan kegagalan kelompoknya lebih membuatnya marah daripada takut. Maka dia menoleh marah bukannya terkejut ketika sebuah suara dari belakang terdengar lantang.
“ Jangan bergerak sebelum kuperintahkan.” Pria tegap dalam setelan bagus dengan muka penuh bontol itu yang mengeluarkan suara. Tangannya mengacungkan Baretta hitam besar yang kelihatan ringan digenggamannya. Di belakangnya telah siaga sekitar setengah lusin pria dengan setelan bagus juga. Herald merasa muak melihat kain jas mereka yang jatuh dalam lipatan sempurna. Agen khusus. Herald sering menyebutnya agen borjuis karena fasilitas gila-gilaan yang diberikan pemerintah pada mereka.
“ Lepaskan bola itu,” perintah si muka bontol dengan suara rendah. Herald menoleh ke bawah di seberang tembok, memperkirakan tempat untuk mendarat. Semen di bawah sana sempit dan bibirnya curam. Apalagi sekarang ada tubuh rekannya tergeletak disitu.
“ Jangan…!” Si muka bontol mengacungkan satu telunjuknya seperti guru yang melarang muridnya nakal.” Jangan coba-coba melompat ke sana. Kamu tidak akan menemukan sampan temanmu itu. Mau berenang ? Kemana ? Teman-temanku sudah menunggu di jembatan di kedua ujung sungai. Jadi jangan…Hei !”
Luke si muka bontol berseru keras ketika dengan satu gerakan ringan tubuh ramping Herald menghilang di balik tembok.
“ Hubungi Pak Stewart dan teman-teman di jembatan !” komandonya. Ia sendiri bergerak cepat menaiki tumpukan kotak ke puncak tembok.
Dia mendengar suara benda berat masuk ke air.
“ Dia terjun ke sungai !” teriaknya memperingatkan kawan-kawannya.
Sementara Herald memang sudah terjun ke sungai. Dia tidak khawatir dengan peluru itu karena bagian dalam jaketnya yang kedap air. Dan dia terlalu sibuk memikirkan apa yang harus dilakukannya. Dilepaskannya bolanya mengikuti aliran sungai ke barat. Dia sendiri mengambil napas dalam-dalam dan menyelam bergerak ke arah berlawanan.
Dia tahu sulit untuk meloloskan diri dari kepungan mereka. Dia cuma memikirkan peluru-peluru di dalam jaketnya. Jangan sampai mereka mendapatkannya.
Herald menyelam dalam sambil bergerak melepas jaketnya. Ada saluran air mati beberapa meter di depannya. Bekas digunakan pabrik dulu. Dia akan menyangkutkan jaketnya di sana baru cari jalan meloloskan diri.
Luke tidak dapat melihat bayangan anak itu dari permukaan air. Sungai cukup dalam dan hijau pekat. Dia melihat bola yang terbawa aliran air. Berpikir kemana kira-kira arah yang diambil anak itu.
Tidak sulit bagi Herald menyelam dalam karena beban di jaketnya. Dan meskipun dia hampir kehabisan napasnya dia berhasil menemukan saluran bekas itu dan menyangkutkan jaketnya di besi-besi bekas penyaringnya.
Sekarang tanpa jaket itu, juga karena udara yang menipis di paru-parunya ia merasa tidak dapat bertahan lama di dasar sungai. Herald melihat ke permukaan air. Tidak tampak apa-apa kecuali tembok di kanan kiri sungai. Jembatan terlalu jauh. Dia naik perlahan sambil menjaga dirinya tetap merapat di tembok.
Muncul lagi di permukaan cuma seratus meter dari semenan di belakang pabrik. Si muka bontol melihatnya dan berseru. Herald yakin mereka akan menangkapnya hidup-hidup karena tampaknya si bontol sama sekali tidak ingin menggunakan senjatanya.
Herald memutar kepalanya. Mata birunya tampak pekat karena kulitnya yang memucat. Dingin air sungai dan ketegangan seperti menguras darah dari permukaan kulitnya. Dia mencari-cari dengan pandangannya dan matanya terpaku pada saluran selokan sekitar seratus meter lebih di sebelah kirinya. Persis di pertengahan tempatnya berada sekarang dan jembatan. Dia bisa melihat sosok-sosok berseragam memuakkan di atas jembatan itu. Cepat. Sebelum seseorang…

*cerita online,cerita seru

Related Blogs

 Internet Marketing Indonesia

Discussion

No comments for “Cerita Online – Sang Rubah (33)”

If you found this page useful, consider linking to it.
Simply copy and paste the code below into your web site (Ctrl+C to copy)
It will look like this: Cerita Online – Sang Rubah (33)

Post a comment

CommentLuv Enabled

*
To prove you're a person (not a spam script), type the answer to the math equation shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the equation.
Click to hear an audio file of the anti-spam equation

Comments links could be nofollow free.

Batik Keren Customer Service

Don't worry, no animals was harmed!

Cute Cats in Dress

News Letter

Terima Artikel-Artikel Menarik Otomatis dan Gratis.

E-mail:

Categories

Tags