Related Posts:Cerita Seru – VALENTINE SI KEMBAR (Cinta Bikin Gubrak!) – 9Cerita Seru – VALENTINE SI KEMBAR (Cinta Bikin Gubrak!) – 12Cerita Seru – VALENTINE SI KEMBAR (Cinta Bikin Gubrak!) – 10Cerita Seru – VALENTINE SI KEMBAR (Cinta Bikin Gubrak!) – 11Cerita Seru – VALENTINE SI KEMBAR (Cinta Bikin Gubrak!) – 13
Herald menoleh karena bunyi benda jatuh ke air. Si muka bontol rupanya sudah terjun ke sungai mengejarnya. Benar-benar tidak sabaran. Herald mengisi paru-parunya dengan sebanyak mungkin udara dan kembali menyelam dalam. Selokan itu !
Luke melihat sekilas ketika anak laki-laki itu menyelam lagi. Dia berhenti sebentar mengira-ngira kemana arah yang akan diambilnya. Matanya menangkap selokan yang sama di depannya. Kesana atau….Satu pikiran yang lebih nekat membuatnya waspada pada air di sekelilingnya. Bisa jadi anak itu tiba-tiba muncul di bawahnya dengan pisau yang tertuju tepat ke perutnya. Luke mengambil napas dalam dan menyelam. Dia seorang perenang yang baik di akademi dan merasa tenang dengan keyakinan anak laki-laki kurus itu tidak akan menang melawannya di bawah air.
Luke mengayuh dengan otot-otot lengan dan kakinya yang kuat. Badannya yang tegap terlatih meluncur cepat di bawah air. Beberapa saat kemudian matanya menangkap gerakan-gerakan bentukan pucat beberapa meter di depannya. Itu si anak laki-laki.
Luke mengayuh lebih kuat memperpendek jarak diantara mereka.
Herald menyadari si muka bontol itu sudah sangat dekat di belakangnya. Tidak ada pilihan lain kecuali melawan. Kalau beruntung ia bisa mengalahkan si besar berwajah tolol itu dan masuk ke selokan. Dari situ akan banyak jalan keluar ke pekarangan-pekarangan bangunan kantor atau toko di sepanjangnya.
Herald tidak terlalu terkejut ketika tangan kuat Luke mencengkeram pergelangan kakinya. Dia memutar badannya yang ringan dan menendang dengan satu kakinya yang bebas ke wajah orang itu. Tapi Luke berhasil menghindarinya bahkan menangkap kakinya yang lain. Herald merasa tubuhnya terputar oleh kekuatan tangan-tangan Luke. Dalam satu gerakan tubuhnya yang kecil terperangkap dalam jepitan lengan kuat si agen muda. Luke menekan leher anak itu dengan lingkaran satu lengannya sementara yang lain mencengkeram pergelangannya dan menekannya ke belakang punggung.
Herald menyemburkan udara dari mulut dan hidungnya karena rasa sakit di lengannya. Air di sekeliling mereka berbuih ketika ia mencoba meronta dengan sia-sia. Tubuh keduanya naik cepat ke permukaan tetap rapat seperti oktopus membelit mangsanya.
Orang-orang di jembatan berseru melihat keduanya muncul di permukaan air sungai. Herald menjadi nekat. Tangan kanannya yang bebas bergerak ke belakang badannya mencengkeram kuat-kuat si agen muda itu tepat diantara kedua pahanya. Terdengar napas Luke yang tersentak cuma sekejap karena lengan-lengannya yang kuat mendorong dan memutar Herald sedemikian rupa. Wajah agen muda yang marah itu terakhir tertangkap pandangan Herald sebelum tinju besar Luke menghantam wajahnya membuat semuanya gelap seketika.
Mereka membantu Luke mengeluarkan Herald dari dalam air. Seorang petugas langsung memberikan selimut pada Luke yang sudah naik ke darat sambil menyumpah-nyumpah karena air sedingin es itu hampir membuatnya beku.
“ Kalau salah satu orang mereka seperti pemuda ini, aku tidak heran kita selalu kesal berurusan dengan mereka. “ Omelnya ditengah gemeletuk giginya yang beradu.
Martin hanya menatapnya dari atas kebawah tanpa komentar setengah geli. Ditepuknya bahu Luke. Hatinya senang mereka mendapat sesuatu hari ini. Meskipun belum jelas betul apakah anak itu akan ada gunanya atau tidak saat diiterogasi nanti. Yang pasti anak itu pasti tahu sesuatu. Perlawanannya membuktikan itu.
Herald yang sudah diselimuti, dan masih dalam keadaan pingsan segera dibawa ke sebuah mobil.
“ Bawa ke pusat. Minta Stu untuk menangani anak ini. “ Martin berkata pada salah satu agennya yang membawa pemuda itu. Anak buahnya itu mengiyakan. Mereka segera pergi meninggalkan tempat itu. Martin, Luke dan beberapa lainnya tetap tinggal. Beberapa anak buah Martin masih menyusuri daerah itu. Mencari-cari apapun yang mungkin ada gunanya buat mereka.
Luke dan Martin duduk di mobil yang pintunya terbuka.
“ Firasat anda benar sekali, pak. “ Luke berkata tanpa niat memuji. Dia memang mengherani naluri atasannya. “ Ini kerja naluri yang bagus. “
Martin tidak tertarik mengomentari pendapat si muka bontol. Dia menatap sekelilingnya dengan pikiran yang terus berputar.
“ Anak itu masih muda sekali. “ Luke berkata sambil menatap Martin. “ Menurut anda, pak. Dia itu dari kelompok yang mana ? “
“ Entahlah. Tapi kurasa dia itu semacam kurir. Martir. Semacamnya. “ Martin membenarkan duduknya. Lalu berpaling pada Luke. “ Kau merasa ada yang kurang tidak ? “ Tanyanya dengan suara datar.
*cerita online,cerita seru,novel
Discussion
No comments for “Cerita Online – Sang Rubah (34)”
If you found this page useful, consider linking to it.
Simply copy and paste the code below into your web site (Ctrl+C to copy)
It will look like this: Cerita Online – Sang Rubah (34)
Post a comment