Related Posts:Cerita Seru – VALENTINE SI KEMBAR (Cinta Bikin Gubrak!) – 15Cerita Seru – VALENTINE SI KEMBAR (Cinta Bikin Gubrak!) – 17Cerita Seru – VALENTINE SI KEMBAR (Cinta Bikin Gubrak!) – 16Cerita Seru – VALENTINE SI KEMBAR (Cinta Bikin Gubrak!) – 20Cerita Seru – VALENTINE SI KEMBAR (Cinta Bikin Gubrak!) – 21
Luke menatapnya dengan pikiran kosong.
“ Kau mengamati anak itu baik-baik, kan ? “
Luke mengangguk. Tatapannya masih bingung mencari kearah mana Martin membawanya.
“ Detil apa yang kau ingat ? “ Martin bertanya sambil menatap Luke lurus. “ Selain kemampuan menganalisa dan bereaksi cepat, kurasa memperhatikan detil itu hal lumrah yang diajarkan di akademi, kan, nak ? “
Si muka bontol diam. Kepalanya merunut apa yang dialaminya dengan Martin sejak pertama kali melihat pemuda yang mereka curigai itu. Martin menunggu dengan sabar dalam ketenangan sikapnya yang seperti guru menunggui murid bandel memecahkan soal ujian yang diberikannya.
Wajah Luke tiba-tiba berbinar.
“ Aku tahu, pak Stewart. “ Katanya senang. “ Jaket. Anak itu tadi mengenakan jaket, kan ? “ ditatapnya atasannya yang nampak tersenyum.
Martin mengangguk. “ Dimana jaket itu sekarang ? “
Senyum Luke lenyap. Dia berpaling menatap permukaan air sungai yang gelap dimana tadi dia menangkap pemuda itu. Di air. Dimana lagi. Bukankah anak itu berpakaian lengkap waktu terjun ke air.
“ Apakah…” dia memandang Martin dengan kata-kata yang menyangkut di tenggorokan. Dia membayangkan dinginnya air sungai itu.
“ Ya. “ Martin mengiyakan tidak menunggu kata-kata Luke selesai. Dia tahu apa yang ada dalam kepala anak muda itu.
“ Kau urus saja, Luke. Bawa bukti itu pada Stu secepatnya lalu temui aku di kantor setelah itu. “ Martin berkata tak terbantah.
Dengan enggan Luke keluar dari mobil.
“ Ya, pak. “ Katanya pasrah. Menatap Martin memberi isyarat pada seorang agen lain untuk membawa kendaraannya pergi dari tempat itu.
Luke termangu. Mengalihkan lagi pandangannya ke permukaan air yang sudah membuatnya nyaris beku tadi. Damn ! rutuknya. Dia harus membeku sekali lagi.
Stuewart Hunter. Pria berwajah biasa-biasa dengan rambut merah yang dipotong rapi. Duduk dibelakang mejanya dengan hem yang sudah agak kusut dan tergulung dibagian lengannya. Jasnya tersampir asal di kursi. Dia menghadapi berkas-berkas kerja di mejanya. Kelihatan sekali kalau dia kurang istirahat beberapa hari sebelumnya.
Umurnya pertengahan empatpuluhan. Perawakannya sedang tanpa lemak tetapi juga tidak berotot. Tingginya rata-rata. Dia adalah kepala satuan khusus polisi Protestan untuk Belfast. Penampilannya hampir seperti kebanyakan polisi senior pada umumnya. Tidak terlalu rapi, tidak menonjol secara penampilan. Secara umum dia tidak nampak seperti petugas khusus yang cerdas dan tangguh, malahan dalam sekilas pandang dia mirip seorang pembosan. Tetapi pada kenyataannya dia tipe pekerja yang tekun dan setia pada profesinya. Cukup tangguh untuk mengatasi hampir semua masalah dan tekanan dalam pekerjaannya. Dia adalah seorang pria yang santai dan praktis. Tidak bossy dan tidak terlalu peduli pada birokrasi.
Seperti kebanyakan orang yang setia pada pekerjaannya. Stu, si rambut merah ini, lebih banyak tinggal di kantornya daripada di tempat-tempat lain. Dia selalu datang pagi-pagi sekali dan pulang selalu mendekati tengah malam. Tidak jarang juga dia tinggal di kantornya untuk menginap. Dia tidak perlu ruangan khusus buat beristirahat. Dengan sikap praktisnya, dia bisa tidur hampir dimanapun. Di sofa, di kursi kerjanya dan sekali waktu bahkan di lantai kantornya. Dia tidak perlu pusing akan diomeli istrinya kalau terlambat pulang, karena semua anggota keluarganya ada di London. Sekali setiap dua minggu istrinya datang mengunjunginya. Dan diluar waktu kunjungan itu, dia adalah pria merdeka yang tidak punya keterikatan atau keharusan buat pulang ke rumah.
Stu sedang mempelajari laporan dari rekannya di Londonderry, soal peristiwa pembantaian yang menyengat banyak pihak itu. Menurut kebiasaan si Rubah, biasanya akan dilakukan sebuah aksi susulan. Dan itu bisa dimana saja. Di Derry lagi atau di Belfast. Dia harus mengantisipasi hal itu sebelum terjadi.
Perhatiannya teralih pada ketukan di pintu ruang kerjanya.
“ Masuk. “ Suara datarnya terdengar.
Seorang petugas masuk. Sebagai salah satu anak buahnya yang diperbantukannya pada Martin Stewart.
“ Pak Hunter, saya diminta pak Stewart menemui anda. “ petugas itu berkata begitu berada di hadapan Stu.
“ Apa ? “ Stu menyandarkan diri ke kursi.
“ Kami menangkap orang yang mungkin terlibat kelompok bawah tanah. “
“ Siapa ? Kelompok apa ? “
Petugas itu menggeleng.
“ Kami belum tahu. Pak Stewart menyerahkannya pada anda. Ini rincian laporan penangkapannya. “ petugas itu menyerahkan selembar kertas berisi laporan operasi.
*cerita online,cerita seru
If you found this page useful, consider linking to it.
Simply copy and paste the code below into your web site (Ctrl+C to copy)
It will look like this: Cerita Online – Sang Rubah (35)
wah sampe 35 lho.. luar biasa.
salam kenal dari wawan Mas.
Masih bersambung kah
Belajar SEO Para Pemula’s last blog post..Masuk Sandbox
@Wawan, Salam kenal juga mas..makaci udah mampir
@Belajar SEO, masih panjang mas..sering-sering mampir aja..kekekke