Related Posts:Metro TVThe Final Countdown – EuropeSearch Engine Optimization tutorialRepublik Cinta TVAntara Aku,Kau dan Bekas Pacarmu
Stu menarik nafas dalam. Merenerima kertas laporan itu dan meletakkannya di meja. Sebetulnya dia kurang suka harus meladeni agen Martin Stewart, si kepala operasi khusus yang statusnya sebetulnya cuma diperbantukan di Belfast ini. Tapi karena reputasi dan karena dia datang atas perintah London, Stu harus menghormati rekan barunya itu. Dia ditugaskan untuk menangani dan memburu si Rubah. Bagi Stu masalahnya bukan cuma soal membantu Martin mengurus apa saja. Tapi tugas melakukan interogasi bukanlah hal yang menyenangkan untuk dilakukan. Dia lebih suka disuruh melakukan penggerebekan atau pengejaran atau bahkan berhadapan langsung dengan para teroris itu dalam tembak menembak dari pada tugas interogasi. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuatnya merasa tidak cocok dengan pekerjaan itu.
“ Baiklah. “ Stu berkata akhirnya. “ Dimana dia ? “
“ Tempat biasa, pak “
Stu mengangguk.
“ Kalau ada perkembangan atau informasi apapun, pak Stewart ingin mendengarnya langsung dari anda, pak Hunter. “ petugas itu berkata lagi dengan nada yang tetap sopan. Kelihatan sekali dia agak segan mengutarakan hal itu pada Stu. Tapi dia harus mengatakan karena itu pesan Martin. Atasan barunya.
Stu mengangguk lagi, tapi tatapannya sudah menyiratkan kesebalannya.
“ Aku turun seperempat jam lagi. Kau siapkan saja tangkapan kalian itu di ruang interogasi. Beri dia secangkir kopi. “
“ Baik, pak. “ Petugas itu segera berlalu begitu mendapat perintah.
Sepeninggal anak buahnya itu, Stu termangu di kursinya. Masalah yang berkaitan dengan aksi kelompok-kelompok garis keras selalu tidak mudah buat dihadapi. Celakanya akhir-akhir ini aktifitas mereka cenderung meningkat seiring dengan tak kunjung selesainya perdebatan masalah penyelesaian status Irlandia Utara. Dan departemen dibawah kepemimpinannya ini yang selalu mendapat potongan kue tidak enaknya. Bukan cuma menghadapi pers dan tudingan masyarakat atas ketidakamanan situasi dalam kota, tetapi juga menjadi bak penampungan kegusaran orang-orang penting baik di Stormont maupun London. Stu secara bergurau sering menyebut departemennya sebagai departemen bagian kejepit’.
Stu menegakkan dirinya. Mengalihkan perhatiannya pada berkas laporan operasi penangkapan. Membacanya cepat dan mengingat detil yang dirasanya penting. Beberapa saat kemudian setelah melakukan beberapa hal dengan kertas-kertas kerjanya, Stu dengan asal merapikan mejanya, lalu bangkit menyambar jaketnya. Beranjak pergi keluar ruangan.
Di ruang interogasi sementara itu, Herald McKenzie duduk tenang di kursinya. Kelihatan tidak terganggu dengan memar di rahang kirinya yang masih berdenyut nyeri bekas pukulan si muka bontol. Wajahnya kelihatan kesal atas penangkapannya oleh agen-agen pemerintah itu tapi tampak sudah jauh lebih tenang sekarang. Dia tidak takut apapun kalau paket yang dibawanya aman di dasar sungai. Dia bisa mengambilnya kalau bebas nanti. Lagipula tanpa bukti kuat, mereka tak akan bisa menahannya lama-lama.
Ditengah ruangan yang cukup lapang itu, dia tidak sendirian, ada seorang petugas yang berjaga di dekat pintu. Mengawasi gerak-geriknya. Herald menatapnya sesekali dengan sinar mata merendahkan. Kecoak Inggris. Begitu pikirnya.
Herald McKenzie, pemuda sembilan belas tahun. Wajahnya belia dan masih menyiratkan kepolosan serta arogansi kemudaannya. Tubuhnya tidak besar tetapi liat dan nampaknya dia terlatih untuk melakukan pekerjaan berat. Matanya tajam dan menyiratkan keingintahuan. Alisnya yang tebal sedikit mencuat memberi kesan dia agak iseng dan bandel. Secara umum dia mirip pemuda sebayanya pada umumnya. Ada gambaran kekeras kepalaan pada wajah dan sikapnya, ada kepolosan, ada keingintahuan, tapi pada Herald ada juga ke sok tahuan dan keangkuhan pada sikapnya sebagai refleksi rasa percaya dirinya yang besar. Tetapi pada kenyataannya dia memang bukan remaja kebanyakan. Dia telah bergabung cukup lama dengan kelompok bawah tanah. Dia mulai sejak masih sangat muda sekali. Empat belas tahun. Dan dia bukan martir biasa. Dia sudah beroperasi dalam beberapa aksi berbahaya bersama nama-nama besar yang dicari agen-agen pemerintah seperti McNamara si tampan kelabu itu, Oliver O’Hara perekrutnya sekaligus ayah angkatnya, lalu Fox, si legenda hidup bermata malaikat itu. Dan karena dia merasa dipercaya menyertai mereka dalam beberapa aksi, dia tidak akan membuka mulutnya apapun yang akan dihadapinya nanti.
Dia hanya menyesal mengapa agak ceroboh sehingga tertangkap. Itu saja. Dia memikirkan paket yang dibawanya daripada keselamatan dirinya. Oliver selalu mengatakan satu peluru sama dengan satu nyawa, maka setiap pengiriman paket haruslah diutamakan penyelamatan paketnya jika terjadi kegagalan. Sejauh ini, meskipun merasa telah menyelamatkan paketnya, Herald masih merasa belum cukup tentram, rekan-rekannya diluar sana belum mendengar soal penangkapannya. Mereka akan tahu itu pasti, jaringan mereka luas dan tertanam dimana-mana, tapi tetap butuh waktu sebelum keberadaannya di penahanan ini diketahui….(Bersambung)
*Cerita Online,Cerita Suspend,Fiksi,Novel
Discussion
No comments for “Cerita Online – Sang Rubah (36)”
If you found this page useful, consider linking to it.
Simply copy and paste the code below into your web site (Ctrl+C to copy)
It will look like this: Cerita Online – Sang Rubah (36)
Post a comment