Related Posts:Cerita Seru – VALENTINE SI KEMBAR (Cinta Bikin Gubrak!) – 3Cerita Seru – VALENTINE SI KEMBAR (Cinta Bikin Gubrak!) – 6Cerita Seru – VALENTINE SI KEMBAR (Cinta Bikin Gubrak!) – 5Cerita Seru – VALENTINE SI KEMBAR (Cinta Bikin Gubrak!) – 7Cerita Seru – VALENTINE SI KEMBAR (Cinta Bikin Gubrak!)
George menyadari perhatian istrinya pada arsitektur kota yang eksotis itu dan meminta sopir taksi untuk berputar-putar dulu sebelum menuju hotel.
Melewati beberapa gedung kuno yang cacat disana-sini sisa kerusuhan dan peperangan panjang negara itu Caroline mendecak menyesali. Pemerintah sengaja membiarkan saja kerusakan itu tanpa memperbaikinya sebagai suatu monumen asli dari kekejaman dan pahitnya pergolakan yang pernah melanda negeri itu. Caroline bisa melihat satu dua turis asing yang mengambil gambar kerusakan. Ia tidak bisa mengerti dan menangkap keindahannya. Baginya peringatan semacam itu sungguh muram.
“ Apa mereka masih beraksi di Dublin ?” tanyanya. George yang sedang membaca ulang berkas-berkas tugasnya mengangkat wajah.
“ Hmm ?”
“ Para teroris itu ?”
“ Yang mana ?”
Caroline membulatkan mata tidak sabar.
“ Ayolah, George. Bagiku mereka sama saja. IRA, ILF, Sein Fine…”
“ Sinn Fein.” George mengkoreksi.
“ Apa kek.”
George tersenyum geli. Caroline penggerutu dan tidak sabaran. Sifatnya masih sama seperti enam tahun yang lalu waktu mereka pertama kali bertemu di sebuah acara peluncuran novel perdana karya Caroline. George datang untuk menemani rekannya yang meliput acara itu. Ia langsung suka sosok wanita muda yang spontan dan meledak-ledak itu. Itu diluar bayangannya semula tentang seorang penulis cerita fiksi romantis.
Tadinya ia sudah mengharapkan melihat seorang wanita yang lebih tua, mengenakan setelan kelabu dengan scarf tipis di leher, dan senyum abadi di wajahnya. Ternyata ia harus menghadapi kenyataan gadis mungil yang mengomel dengan bibir cemberut karena tumpahan minumannya itu adalah si penulis. Sebetulnya George ingin membela diri waktu itu. Mereka bertubrukan sehingga minuman yang dibawanya tumpah ke baju Caroline bukan karena kelalaiannya, tapi karena si pendek itu yang terlalu aktif bergerak kesana-kemari menyapa teman-teman wartawannya.
Perlu tiga bulan baginya untuk mengajak Caroline keluar. Mereka menikah dua tahun kemudian. Dan sampai sekarang ia belum membela diri tentang tumpahan sampanye di baju Caroline waktu itu.
“ Tidak semua mereka adalah teroris. Beberapa percaya bahwa apa yang mereka lakukan adalah bagian dari perjuangan.”
“ Well, kurasa sebagian besar teroris menganggap aksi mereka adalah bagian dari perjuangan.”
“ Tidak seperti itu. Kalau melihat ke kilas balik sejarah Irlandia yang penuh bayangan hitam dan kekerasan invasi Inggris mungkin kita lebih suka menyebut mereka sebagai partisan saja.”
Caroline termenung sejenak.
“ Tapi kekerasan yang mereka lakukan sering melukai bahkan membunuh masyarakat sipil yang tidak berdosa. Apa bedanya ? Aku menggolongkan itu sebagai terorisme.”
*cerita online, cerita seru
If you found this page useful, consider linking to it.
Simply copy and paste the code below into your web site (Ctrl+C to copy)
It will look like this: Cerita Online – Sang Rubah (7)
Cerita bagus
Makaci dah mampir..kekkeke