Related Posts:Cerita Seru – NICK, GO HOME….(2)Cerita Seru – NICK, GO HOME….(3)Cerita Seru – NICK, GO HOME….(4)Boost Your ‘Brain’ Memory!Cerita Seru – KISAHKU (3)
Akhir January 1970. Londonderry, Irlandia utara.
Pagi itu, pusat kota terbesar kedua di Irlandia Utara itu tampak tenang. Jalanan basah karena embun semalam. Matahari tidak tampak, tertutup awan tipis yang merata di permukaan langit pucat.
Kesibukan rutin sehari-hari berjalan seperti biasa. Angkutan umum menaikkan atau menurunkan penumpang di tempat-tempat pemberhentian. Kendaraan pribadi melaju dengan kecepatan sedang. Para pejalan kaki bergegas dalam langkah lebar dengan uap putih tipis mengepul dari napas mereka. Sementara tangan-tangan tersimpan di saku mantel tebal yang mereka kenakan karena udara sejuk telah menjadi jauh lebih dingin. Angin menerjang-nerjang kencang menusuk kulit. Musim dingin memang sudah mulai terasa.
Namun tampaknya orang tidak begitu peduli dengan cuaca. Banyak muda-mudi berjalan berombongan di trotoar sambil mengobrol dengan antusias remaja umumnya. Sementara di beberapa swalayan dan toko bahan makanan, terlihat orang-orang yang hendak membeli kebutuhan sehari-hari. Tidak ada yang istimewa. Hanya permulaan hari baru seperti sebelumnya bagi kebanyakan orang.
Kecuali, bagi orang-orang yang terlibat di dalam gerakan bawah tanah IRA. Kelompok garis keras Irlandia. Hari itu, mereka sudah merencanakan sesuatu.
Pria muda berpakaian serba gelap itu berdiri bersandar di tiang listrik. Mata hijau pucatnya yang bersinar rapuh sesekali melihat ke arah sebuah hotel di ujung jalan. Udara dingin tidak menggoyahkan sikapnya. Diam, menanti.
Sekilas dia hanya akan nampak seperti seseorang yang sedang menanti kedatangan bis berikutnya yang akan membawanya ke tempat kerja. Ia mungkin seorang pekerja pabrik tekstil di wilayah industri di bagian barat kota. Rambutnya yang keemasan lembut menyembul sedikit dari tutup kepala kaus warna hitam yang umum digunakan bila udara menjadi dingin. Celana panjang drill kelabu gelap dan jaket tipis berwarna hitam pudarnya adalah pakaian yang biasa untuk pekerja rendahan seperti itu. Bisa jadi juga ia seorang pelajar yang miskin dari institut-institut kecil di barat daya kota. Yang membagi waktunya dengan bekerja untuk membiayai sekolahnya.
Tetapi tidak. Dia tidak sedang menanti bis atau kendaraan umum apapun. Dia bukan pekerja atau pun pelajar. Ia bukan orang kebanyakan.
Dilihatnya arlojinya. 9.45 menit. Sekarang. Dia berkata pada dirinya sembari menegakkan diri. Menaikkan leher pullovernya yang tinggi menutupi separuh wajah sampai ke hidungnya. Kemudian berjalan kearah hotel diujung jalan itu dengan kedua bahunya terangkat sedikit dan kedua tangan di dalam saku celananya. Rapuh. Tenang.
*cerita online, cerita seru
Discussion
No comments for “Cerita Online – Sang Rubah (1)”
If you found this page useful, consider linking to it.
Simply copy and paste the code below into your web site (Ctrl+C to copy)
It will look like this: Cerita Online – Sang Rubah (1)
Post a comment