Related Posts:Cerita Online – Sang Rubah (17)Cerita Online – Sang Rubah (18)Cerita Online – Sang Rubah (15)Cerita Online – Sang Rubah (14)Cerita Online – Sang Rubah (20)
Tatapannya lekat. Beberapa ratus meter kemudian, melintasi penjaja koran kaki lima pria berperawakan sedang itu berhenti. Menghadap pada si penjaja koran. Sebagian wajahnya tersembunyi dibalik leher pullovernya tetapi gerakan menyipit matanya yang hijau bening cukup menunjukkan ia sedang tersenyum. Si penjual, seorang pria berwajah gagah dengan berewok tipis yang tercukur rapi membalas senyumnya sekilas, lalu kembali tepekur melipat kedua lengannya menahan dingin.
Dia memilih satu bacaan. Sebuah koran pagi. Berita depannya adalah komentar-komentar dan polemik di parlemen. Masih tentang statemen seorang tokoh yang dikeluarkan minggu lalu. Sebagian menanggapi dengan marah tudingan komedi parlemen. Sebagian menguatkan statemen itu. Setiap orang ingin memberi tanggapan dan didengar suaranya. Itu terjadi sepanjang tahun. Saling menghujat dan melontarkan ide-ide. Ada yang ditanggapi. Ada yang hilang begitu saja berganti dengan yang baru. Tetapi akhirnya sama. Sejalan dengan berlalunya waktu akan segera terlupakan karena tidak ada perubahan apa pun yang dibuat untuk tanah itu, perubahan yang mendamaikan gejolak dari pertentangan ribuan tahun lalu.
Tetapi ia bahkan tidak membaca kolom singkat sekali pun. Meskipun dari jauh terlihat seakan ia sedang membaca, tetapi sesungguhnya perhatiannya tetap tertuju pada situasi di hotel itu. Dia melihat dan mengingat detil dengan cepat dan cermat. Seperti elang yang tenang menatap calon korbannya dikejauhan. Menanti dengan sabar.
Saat itu sebuah rombongan muncul di tikungan. Sebuah mobil limusin. Meskipun tidak menyalakan sirine dan lampu, dikawal dua polisi patroli bersepeda motor di depan dan dua lainnya di belakang rombongan itu jelas menarik perhatian setiap orang di sekitar jalan raya itu. Perhatiannya juga. Dia lalu melipat korannya, dan mengirimkan sebuah isyarat. Sedikit gerakan yang sama sekali tidak menarik perhatian. Mengusap bahunya. Dua kali. Seperti sedang mengusir embun dari kaus pullovernya yang lekang.
Tapi seorang pria lain yang duduk di dalam mobil yang terparkir di depan hotel di seberang jalan, menangkap perintahnya. Pria jangkung, seratus sembilanpuluh senti. Awal tigapuluhan. Rambutnya pirang keperakan. Mata hazel pucat menatap datar seperti marmer beku. Kulit putih pasi sesuram warna kabut yang menutup langit. Dia adalah raksasa kelabu dengan garis-garis wajah keras yang nyaris sempurna. Kecuali tekukan kecil di hidungnya yang menunjukkan ia pernah mengalami patah tulang di situ. Serta satu bekas luka yang samar kelihatan di pipi kirinya memperkeras wajahnya yang dingin tetapi tampan. Merapatkan overcoatnya yang putih susu ia bergerak masuk kedalam hotel membawa tas kopor kecil dari kulit berwarna coklat kemerahan.
Sementara itu rombongan makin dekat. Dua motor di depan mendahului agak jauh lalu memperlambat laju kendaraan mereka, limusin itu ikut memperlambat lajunya. Para pengawal limusin menyapu pandang sesekali ke sekitar mereka. Pada jalanan di depan dan pada orang-orang disekitar hotel. Waspada. Terlihat jelas mereka mengawal orang penting. Dan hotel itu adalah tujuan mereka.
Rombongan itu hampir tiba. Seratus meter lagi dari gerbang hotel. Si tampan kelabu dengan bekas luka di wajah sudah muncul lagi dari pintu hotel, melangkah lebar meninggalkan lobby yang mulai penuh orang. Pers dan panitia yang akan menyambut kedatangan tamu terakhir. Dan ia berjalan lebih cepat begitu mencapai jalanan.
Rombongan kian dekat. Sembilan puluh meter dari gerbang hotel. Si kelabu sudah cukup jauh dari kerumunan orang di lobby. Delapan puluh…tujuh puluh…
*cerita online, cerita seru
Discussion
No comments for “Cerita Online – Sang Rubah (2)”
If you found this page useful, consider linking to it.
Simply copy and paste the code below into your web site (Ctrl+C to copy)
It will look like this: Cerita Online – Sang Rubah (2)
Post a comment