Related Posts:Cerita Seru – VALENTINE SI KEMBAR (Cinta Bikin Gubrak!) – 11Cerita Seru – VALENTINE SI KEMBAR (Cinta Bikin Gubrak!) – 10Cerita Seru – VALENTINE SI KEMBAR (Cinta Bikin Gubrak!) – 16Cerita Seru – VALENTINE SI KEMBAR (Cinta Bikin Gubrak!) – 18Cerita Seru – VALENTINE SI KEMBAR (Cinta Bikin Gubrak!) – 17
Pintu mobil terbuka sedikit. Moncong-moncong senjata mencuat dari dalamnya. Tenang si mata hijau membidik tanpa mengurangi kecepatan langkahnya. Bahunya terguncang sedikit karena hentakan balik dari ledakan pistol perak besar di tangannya. Bang…Bang ! Kaca jendela mobil remuk berserpihan ke jalanan. Sesosok tubuh dalam setelan gelap merosot dari tempat duduk depan jatuh ke aspal basah. Satu lagi lengan yang meneteskan darah terjulur terkulai dari pintu belakang yang terhempas lebar. Dia tidak membuang satu butir pun pelurunya dengan sia-sia.
Si mata hijau tiba di samping limusin dengan gerakan cepat yang sangat tenang. Sepasang mata pucat si pengemudi yang menatapnya dengan wajah kaku tertangkap pertama kali. Pengemudi yang terlalu kesima bahkan untuk mengedip. Ia mengalihkan pandangan dari si pengemudi yang ketakutan sampai seputih kapas itu, ke tempat duduk belakang dimana si orang penting menatapnya kaku seperti patung batu. Tampaknya sudah mati sebelum mati. Mata dan mulutnya terbuka sama lebar tanpa suara dan cahaya semangat kecuali ketakutan. Itulah wajah sebenarnya dari kematian. Dia tidak terkesan. Dingin, diacungkannya tangannya ke orang penting di dalam mobil yang bahkan tidak sempat berteriak ketika tiga peluru terpompa dari laras pistol itu, tertanam di dadanya. Hampir di tempat yang sama. Pemborosan. Dapat dipastikan si orang penting itu tewas seketika pada tembakan pertama.Tapi dia memerlukannya kali ini. Satu untuk membunuhnya. Dua lagi untuk pesan.
Setelah itu tanpa komando, di tengah kekacauan yang tercipta. Lima orang bertopeng itu menyelinap cepat meninggalkan jalanan depan hotel yang telah berubah menjadi seramai festival Brasil. Seperti datangnya, mereka pergi seperti angin.
Ketika orang-orang mulai tenang dan meneriakkan ‘seseorang telpon ambulans’, sebuah ledakan susulan terdengar memecahkan kaca-kaca jendela hotel. Mereka menjerit dan merundukkan diri lagi. Tidak sedahsyat yang pertama, tetapi guncangan yang menjalar di tanah mencapai cukup jauh hingga ke jalan-jalan yang lebih kecil dimana ia berjalan dengan tenangnya. Sendiri. Entah kemana hilangnya orang-orang bertopeng yang lainnya. Dia sendiri telah melepas topeng dan pullovernya. Melipat rapi dan membawanya dalam dekapan sebelah tangan. Tinggal jeans dan sweater melapisi kemeja tipis yang menunjukkan perawakan kecil si pemuda. Rambutnya halus keemasan tak lagi tertutup kaus hitam bergerak lembut tiap kali ia melangkahkan kakinya.
Wajahnya yang pucat merunduk bagai malu-malu. Kedua bahu agak terangkat. Tangan yang sebelah di saku celana. Pemuda yang menarik. Sangat halus bahkan cenderung cantik dan seakan tidak berdaya.
Matanya mengerjap polos menangkap bayangan seorang pria jangkung yang muncul di balik tembok sebuah rumah di tikungan depannya. Si raksasa kelabu dengan bekas luka sudah menunggunya.
Si pembantai tampan bersosok rapuh bersatu dengan si kelabu. Mereka berjalan melewati orang-orang yang berlarian keluar dari rumah dan toko-toko dan bertanya-tanya diantara mereka sendiri tentang gempa kecil yang terasa barusan.
Dia melenggang tanpa ada yang mencurigainya. Entah karena sosoknya yang ramping kecil lebih mirip pelajar tanpa daya itu. Atau karena sudah terlampau banyak ledakan di negeri itu untuk mengejutkan para buruh yang bergegas takut terlambat kerja. Tidak satupun yang menaruh perhatian padanya dan si kelabu yang terus melangkah menjauh.
*cerita online, cerita seru
Discussion
No comments for “Cerita Online – Sang Rubah (4)”
If you found this page useful, consider linking to it.
Simply copy and paste the code below into your web site (Ctrl+C to copy)
It will look like this: Cerita Online – Sang Rubah (4)
Post a comment