Related Posts:ISTANA DI KAKI LANGIT (9)ISTANA DI KAKI LANGIT (4)ISTANA DI KAKI LANGIT (6)ISTANA DI KAKI LANGIT (3)ISTANA DI KAKI LANGIT (7)
Mulanya Caroline bersemangat untuk pergi. Ia seorang penulis yang cukup dikenal. Cerita George tentang eksotisme tanah Eropa membuatnya antusias untuk ikut ke Irlandia. Ia sedang menyiapkan sebuah novel drama romantis dan berniat mendapatkan ide-ide yang bagus untuk tulisan terbarunya nanti. Di samping itu suaminya menjanjikan ini akan menjadi semacam bulan madu mereka kembali karena selama ini George terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Mereka bahkan pernah tidak bertemu selama seminggu padahal tinggal di kota yang sama.
“ Aku tidak suka warna langitnya,” Caroline mengeluh begitu taksi keluar dari komplek bandara.
“ Tapi indah, kan ? Kapan kamu terakhir melihat langit berwarna dengan mendung begitu tebal tetapi masih menyisakan celah-celah untuk sinar matahari.” George menunjuk ke luar. Dari kejauhan tampak pemandangan yang unik. Sinar matahari yang tertutup awan bergumpal-gumpal menerobos celah-celah gumpalan itu dan membentuk berkas-berkas seperti lampu-lampu sorot raksasa yang jatuh di atas lereng-lereng perbukitan Wicklow. Caroline agak tergerak, tetapi ia tetap mendecak tak puas.
“ Tapi warnanya ungu. Sungguh muram. Mengerikan. Sepertinya hantu dan vampir berkeliaran di sana.” Gerutunya, sebenarnya lebih karena tubuhnya yang terasa tidak nyaman dengan perubahan suhu. Dan ia menderita jetlag setiap kali harus terbang ke arah timur.
George tertawa geli.
“ Bukankah itu bagus untuk bahan ceritamu nanti ?”
“ Aku menulis drama, George. Bukan cerita hantu.” Caroline mendecak.
“ Yaa…Bubuhkan sedikit hantu dalam dramamu. Hantu yang jatuh cinta pada seorang wanita Amerika yang…”
“ Ngawur !”
George tertawa keras waktu Caroline menyikut pinggangnya dengan muka cemberut. Tapi senyum kecil membayang di bibirnya yang mungil. George menarik bahu istrinya dan menepuk-nepuknya sepanjang jalan. Ia benar-benar menyukai perjalanan kerjanya kali ini.
Caroline agak terhibur waktu mereka memasuki kota. Bangunan-bangunan berwarna kelabu atau merah bata berasitektur Georgia kuno dengan kubah-kubah bercat hijau pudar di atasnya menyita perhatiannya. Tinggi bangunan itu tidak ada yang melebihi enam lantai. Semua dilengkapi pilar yang tertanam setengahnya di dinding benar-benar menguatkan kesan klasik kota itu.
Belum lagi ketika mereka melintasi jalan O’Connell yang merupakan jalan utama Dublin. Di sebuah perempatan jalan berdiri sebuah monumen batu dengan patung Daniel O’Connell, seorang pahlawan bangsa Irlandia pada awal abad ke 19, di puncaknya. Tampak beberapa turis berdiri di kaki patung untuk membaca prasasti atau berfoto di sana. Caroline bisa membayangkan di jaman dahulu perempatan itu mungkin tidak dipenuhi mobil dan kendaraan bermotor seperti sekarang. Orang-orang dengan mobil antik, berkuda atau naik kereta kayu lalu lalang diantara bangunan-bangunan tua di bawah cahaya suram dari lampu-lampu minyak di tepi jalan pada malam harinya. Bukan main. Kepalanya langsung merangkai adegan-adegan romantis yang akan ditulisnya dalam cerita nanti.
*cerita online, cerita seru
Discussion
No comments for “Cerita Online – Sang Rubah (6)”
If you found this page useful, consider linking to it.
Simply copy and paste the code below into your web site (Ctrl+C to copy)
It will look like this: Cerita Online – Sang Rubah (6)
Post a comment