Related Posts:Cerita Seru – Remaja ITU Bernama SAGA (9)Cerita Seru – Remaja ITU Bernama SAGA (13)Cerita Seru – Remaja ITU Bernama SAGA (11)Cerita Seru – Remaja ITU Bernama SAGA (10)Cerita Seru – Remaja ITU Bernama SAGA (6)
Itulah Danika, berminat pada banyak hal, mampu belajar dengan cepat, tapi segera merasa bosan. Seperti saat ini, tiba-tiba saja dia datang dan minta diajari main basket. Entah atas alasan apa, tapi Devon menyadari ada alasan kuat dibalik ini semua, karena biasanya Danika berminat pada sesuatu yang juga diminati dan dikuasai oleh Dante. Sedangkan untuk basket, Dante tidak begitu ahli dan berminat. Dante hanya bermain basket untuk sekedar sosialisasi dengan teman-temannya yang sebagian besar melakukan olah raga itu.
Devon bisa melihat telapak Danika memerah dan lecet. Danika hanya berhenti untuk mengatur napas dan melemaskan persendian lengannya yang terasa pegal. Sesekali Devon menangkap kesan seolah Danika menahan perih di tangannya tapi berusaha menutupinya. Gadis itu tetap bersemangat seperti saat latihan pertama kali tadi. Secercah senyum terkembang di wajah Danika yang dipenuhi keringat ketika ia sudah mulai rileks dengan bola di tangannya, sesekali dia mencoba berlari pelan dengan bola yang terus memantul mengikuti gerakan tangannya.
“Oke, Nik, istirahat dulu deh! Tuh minum airnya!” Devon menyambar bola dari tangan Danika dan memutarnya dengan jari telunjuknya.
Kali ini Danika tidak memprotes, tampaknya dia memang sudah lelah. Gadis itu duduk di halaman semen sambil meluruskan kakinya. Dia langsung meneguk habis segelas air mineral yang disuguhkan si Mbak. Devon duduk di hadapan Danika sambil menekuk kedua kakinya.
“Untuk hari ini sampai sini dulu deh latihannya. Lo udah lumayan kok. Lagian tuh tangan udah lecet begitu, ntar infeksi lagi.”
Danika diam saja sambil meniup telapaknya.
“Besok kita mulai belajar shot dan steal , pelan-pelan aja.”
Danika manggut-manggut. Dia sedikit ngerti istilah basket, meski tidak bisa mempraktekannya dengan baik.
“Kenapa sih sebenernya lo kepingin bisa basket? Mau ada pertandingan?”
Danika menggeleng.
“Nggak kenapa-kenapa, kepingin aja. Ya udah, gue pulang dulu yah, thanks banget udah ngajarin gue. Besok gue ke sini lagi. Lo nggak ada acara keluar kan besok?”
Devon menggeleng.
“Bagus, sampai besok ya.” Danika bangkit. “Oya, jangan bilang Dante kalo gue belajar basket ya, ntar si kupret satu itu rese lagi.”
Devon yang meski heran tapi mengangguk saja sembari nyengir.
“Dah, Devon, sampai besok.”
“Dah, Nik. Sampai besok juga.”
Devon menatap kepergian Danika dengan seribu tanya.
***
Sore hari di rumah Lana kebetulan sedang ada Tyas. Keduanya duduk berhadap-hadapan di atas tempat tidur yang berada di tengah kamar tidur Lana yang besar dan serba pink. Keduanya sedang melihat katalog yang berisi foto-foto gaun yang akan mereka kenakan untuk pesta Valentine. Gaun-gaun dalam foto itu bisa dipesan di sebuah Butik karya perancang terkenal ibu kota.
“Rasti kenapa nggak jadi kesini, Lan?”
“Nganterin nyokapnya kemana tauk.”
Tyas mengangguk.
“Ini bagus ya, tapi agak kepanjangan. Mungkin kalau dibuat pas di bawah lutut lebih manis kali, ya?”
Lana menunjuk sebuah gaun berwarna peach dalam katalog.
“He eh.” Tyas menjawab tanpa semangat.
“Lo udah ada gaun baru untuk pesta nanti?”
Tyas menggeleng.
*Cerita Remaja,Cerita Seru,Fiksi,Novel by TYKA DINARSASI
If you found this page useful, consider linking to it.
Simply copy and paste the code below into your web site (Ctrl+C to copy)
It will look like this: Cerita Seru – VALENTINE SI KEMBAR (Cinta Bikin Gubrak!) – 11
hemmmmm bagus…