Danika menunduk mencari kotak obat di meja Dante. Dante memperhatikan saja, tidak berniat membantu. Belum sempat Dante bertanya lagi, terdengar telepon di depan kamar Dante berdering. Danika menoleh ke arah Dante yang masih duduk di kasur sedang bengong sambil memperhatikan dirinya.
“Angkat, gih! Lo nggak denger telepon bunyi? Kenapa tiba-tiba lo jadi budeg hari ini?”
Dante bangkit [...]
“Kapan belinya? Nih pilih salah satu, mendingan jahit aja di Butik ini. Ntar kalo mepet nggak keburu lho. Artis banyak lho yang ngantri minta dibikinin baju di situ. Belum lagi kalau ada selebriti mau nikah.”
Tyas memainkan bibirnya dengan ekspresi malas.
“Lo kenapa sih, Yas?”
“Nggak kenapa-napa. Gue cuma bingung. Pesta ntar gue pergi sama siapa? Dua minggu [...]
Itulah Danika, berminat pada banyak hal, mampu belajar dengan cepat, tapi segera merasa bosan. Seperti saat ini, tiba-tiba saja dia datang dan minta diajari main basket. Entah atas alasan apa, tapi Devon menyadari ada alasan kuat dibalik ini semua, karena biasanya Danika berminat pada sesuatu yang juga diminati dan dikuasai oleh Dante. Sedangkan untuk basket, [...]
“Ta…tapi…” Aku terbengong-bengong. Apakah Valentine serius dengan ucapannya?
“Aku ingin kita bertunangan dulu. Kita menikah kalau kamu sudah benar-benar siap. Kamu bersedia, Tiwi?”
Valentine menunggu jawabanku. Sementara aku nyaris pingsan antara bahagia dan tidak percaya.
“Tiwi?’ Arya menyentuh bahuku.
Aku tidak bicara apa pun, tapi aku spontan mengangguk.
“Aku bersedia.” Akhirnya keluar juga suaraku.
Valentine memelukku. Arya memeluk kami berdua. Sekarang [...]
“Permisi.” Suara pria. Aku segera bangkit menuju depan.
Seorang pemuda berusia awal 20, sangat tampan, jangkung dan bertubuh bagus dibalut setelan kaos lengan panjang berwarna hitam, sewarna celananya. Kontras dengan kulitnya yang sangat cemerlang. Aku tertegun melihat pemuda itu. Siapa dia? Mirip seseorang.
“Halo Tiwi. Kok bengong. Kamu tidak ingat aku? Valentine.”
“Hah!” Aku menutup mulutku dengan ekspresi [...]
Bukannya aku menganggap diriku begitu tingginya, tapi aku hanya belum ingin menikah saat ini. Itu saja. Aku merasa banyak yang bisa kudapatkan di usia mudaku, pengalaman, pekerjaan dan masa depan yang lebih baik. Tapi di desaku ini, gadis sebayaku sudah menikah semua dan bahkan sudah punya anak. Arya, sahabat setiaku, juga belum menikah. Tapi dia [...]
Kalau hari sedang hujan, kami hanya bermain di dalam vila. Pernah Valentine mengajak kami ke perpustakaan pribadinya. Valentine hanya punya beberapa komik, selebihnya buku-buku bacaan serius atau apalah yang tidak kumengerti di sana. Meski aku dan Arya agak bosan berada di perpustakaan pribadi Valentine, tapi kami bangga, karena tidak sembarang orang boleh memasuki ruangan itu [...]
“Kami senang bermain denganmu, iyakan, Ya?” Ujarku bersemangat, Arya mengangguk mantap merespon ucapanku.
“Kami akan datang mengunjungimu untuk bermain bersama.” Ujar Arya.
Mata Valentine berbinar indah.
“Aku senang berada di istana batu ini. Ksatria Tiwi dan ksatria Arya akan senantiasa menjadi teman yang baik bagi Prince Val, yang mendiami sebuah istana batu yang indah dan megah ini.” Aku [...]
Danika hanya menyukai olah raga renang dan bersepeda. Itu saja! Kalau toh melakukan olahraga yang berhubungan dengan bola, beberapa kali dia ikut main bola sepak dengan Dante, Devon, dan beberapa anak tetangga di komplek mereka, dan dia hanya turun beberapa menit saja sebelum akhirnya diganti oleh pemain lain, alias sebagai penggembira tim saja. Tapi kalau [...]
Siapa lagi dua orang dewasa itu? Pengawal dan dayang-dayang Valentine kah?
“Nggak papa kok Pak Asep, Bik Tarmi. Aku lagi bercanda sama dua teman baruku ini. Tiwi dan Arya. Tiwi, Arya, ini Pak Asep sopir kepercayaan keluargaku, dan Bik Tarmi, sudah bekerja selama 12 tahun, sehari sesudah aku lahir.”
Pak Asep dan Bik Tarmi mengangguk dan beringsut [...]