“Permisi.” Suara pria. Aku segera bangkit menuju depan. Seorang pemuda berusia awal 20, sangat tampan, jangkung dan bertubuh bagus dibalut setelan kaos lengan panjang berwarna hitam, sewarna celananya. Kontras dengan kulitnya yang sangat cemerlang. Aku tertegun melihat pemuda itu. Siapa dia? Mirip seseorang. “Halo Tiwi. Kok bengong. Kamu tidak ingat aku? Valentine.” “Hah!” Aku menutup [...]
Bukannya aku menganggap diriku begitu tingginya, tapi aku hanya belum ingin menikah saat ini. Itu saja. Aku merasa banyak yang bisa kudapatkan di usia mudaku, pengalaman, pekerjaan dan masa depan yang lebih baik. Tapi di desaku ini, gadis sebayaku sudah menikah semua dan bahkan sudah punya anak. Arya, sahabat setiaku, juga belum menikah. Tapi dia [...]
Kalau hari sedang hujan, kami hanya bermain di dalam vila. Pernah Valentine mengajak kami ke perpustakaan pribadinya. Valentine hanya punya beberapa komik, selebihnya buku-buku bacaan serius atau apalah yang tidak kumengerti di sana. Meski aku dan Arya agak bosan berada di perpustakaan pribadi Valentine, tapi kami bangga, karena tidak sembarang orang boleh memasuki ruangan itu [...]
“Kami senang bermain denganmu, iyakan, Ya?” Ujarku bersemangat, Arya mengangguk mantap merespon ucapanku. “Kami akan datang mengunjungimu untuk bermain bersama.” Ujar Arya. Mata Valentine berbinar indah. “Aku senang berada di istana batu ini. Ksatria Tiwi dan ksatria Arya akan senantiasa menjadi teman yang baik bagi Prince Val, yang mendiami sebuah istana batu yang indah dan [...]
Danika hanya menyukai olah raga renang dan bersepeda. Itu saja! Kalau toh melakukan olahraga yang berhubungan dengan bola, beberapa kali dia ikut main bola sepak dengan Dante, Devon, dan beberapa anak tetangga di komplek mereka, dan dia hanya turun beberapa menit saja sebelum akhirnya diganti oleh pemain lain, alias sebagai penggembira tim saja. Tapi kalau [...]
Siapa lagi dua orang dewasa itu? Pengawal dan dayang-dayang Valentine kah? “Nggak papa kok Pak Asep, Bik Tarmi. Aku lagi bercanda sama dua teman baruku ini. Tiwi dan Arya. Tiwi, Arya, ini Pak Asep sopir kepercayaan keluargaku, dan Bik Tarmi, sudah bekerja selama 12 tahun, sehari sesudah aku lahir.” Pak Asep dan Bik Tarmi mengangguk [...]
“ Belum-belum kok udah ngusir sih…….galak banget. Aku cuman heran aja jam segini kok kamu sudah datang…….Oh, nggak perlu dijawab. Kayaknya aku tahu, ini pasti salah satu kiatmu untuk menggaet Vido, kan? Ngaku aja. “ “ Nah kamu sendiri ngapain datang pagi-pagi? Biasanya ngepas. “ “ Nggak kenapa-kenapa, aku lagi pengen dateng pagian aja…..lagian aku [...]
“Nik, lo nggak papa kan? Siku lo berdarah tuh. Pulang aja deh, diobatin dulu!” Devon yang memang perhatian terlihat agak cemas. Danika malah tidak mendengar ucapan Devon karena sibuk celingukan, khawatir ada orang lain yang melihat adegan jatuhnya tadi. Terutama si indo. Aduh, jangan sampai deh! Harapnya. Dan untungnya tidak ada orang lain di sana [...]
Tidurku cukup nyenyak sampai pagi. Aku tidak memakan sarapanku. Singkong rebus buatan ibu kumasukkan plastik untuk sarapanku dan Arya nanti. Aku juga membawa teh limun kesukaanku. Begitu Arya datang, kami segera berangkat. Kami melewati kebun Pak Jamin. Pohon apel manalaginya sudah berbuah. Aku dan Arya mengambil beberapa dan langsung kabur. Pagar kecil di halaman belakang [...]
Gading memperkenalkan aku ke Vido. Aku seneng banget. Apalagi sikap Vido terhadapku sangat ramah. Gading bilang sebenarnya Vido juga sudah lama pengen kenalan sama aku. Dobel seneng deh pokoknya. “ Ding, menurutmu Vido dan aku cocok nggak sih?” Gading menghentikan keasyikannya menyeruput es dogernya, menatapku dengan tatapan yang tidak kumengerti apa maknanya. Tapi sesaat kemudian [...]