Sesaat berdiri menyapukan pandangannya ke sekeliling tempat itu. Tumpukan kotak-kotak kayu yang biasa dipanjatnya untuk naik ke atas tembok masih ada di tempatnya. Susunannya tidak berubah. Herald pergi ke tumpukan kotak itu dan mulai memanjat. Dia bisa melakukannya dengan mudah dengan satu tangan tetap memegang bolanya. Bola ini menemaninya dalam berpuluh-puluh tugas berbahaya dia tidak [...]
Kali ini Rasti yang menjawab. “Kalau kita nggak datang trus kenapa?” Potong Danika sengit. “Ya trus, bakal ada pengumuman di seluruh sekolah, kalau si kembar pecundang takut datang ke pesta, karena nggak punya pacar. Ralat, nggak bisa dapet pacar. Gimana?” Danika menahan geram, sementara Rasti mengedipkan sebelah matanya dan berlalu pergi bersama Lana dan Tyas. [...]
Aku mengangguk mengantar kepergian wanita itu. Melihat keadaan Saga saat ini memang membuat hati semakin sedih. Aku menyentuh tangan Saga dengan lembut. Aku menunduk di dekat wajahnya. “Saga, ini Bu Ranti. Kamu mendengarku? Aku akan selalu berdoa untukmu. Aku tidak ingin kamu pergi. Kamu harus berjuang untuk kembali, Saga. Kalau kamu sembuh, kita makan di [...]
Dua tempat yang disebut terdahulu tidak memberikan arti apa-apa. Jalan yang ke tengah kota adalah deretan pemukiman dan kantung-kantung warga keturunan Inggris. Yang ke setasiun kereta adalah daerah industri yang ramai. St.Patrick lebih mengesankan. Di daerah itu ada bekas pabrik minuman yang sudah runtuh. Pemiliknya dulu orang Irlandia asli yang sudah bangkrut dan meninggalkan saja [...]
Danika sedang menyuap baksonya ketika Dante datang dari arah belakangnya sambil menepuk keras pungungnya. “Nik!” Danika tersentak kaget. Untung bakso di tangannya belum masuk mulut, tapi jadinya malah terpental dari sendok dan menggelinding entah kemana. Yah, bakso terakhir gue….Danika manyun sebal. “Ya ampun, Dan, apa sih? Lo pengen gue kesedak bakso?” Danika melotot antara kesal [...]
Sejak aku dan Saga pulang bersama, Saga jadi lebih berani menunjukkan kedekatannya denganku di sekolah. Tapi tentu saja di luar jam kelas. Saga jadi jarang bolos dan kabur dari kelas. Rupanya Ibu Mutia memperhatikan perkembangan kami. “Sepertinya kamu sudah dekat dengan Saga. Aku melihat perkembangan positif dari perilaku dan nilai sekolah Saga.” Suatu kali Ibu [...]
Tidak semua dikenalnya, tapi mereka semua mengenalnya. Mereka memanggilnya McKenzie si martir kecil. Padahal dia sudah tidak kecil lagi sekarang. Bertahun-tahun dilaluinya ini telah menjadi tugas rutin yang membosankan. Tapi mengapa hari ini terasa lain ? Herald tiba di perempatan dan mengambil belokan ke kanan sebagai ganti berjalan lurus. Ia terus menunduk dan memainkan bolanya. [...]
Dante tersenyum dan mengangguk antusias. “Mau, mau…” “Dan…Dante!” Sebuah suara mengagetkan Dante dari alam lamunan. Di hadapan Dante berdiri sesosok cewek, tapi sayangnya bukan Lana melainkan Rasti, teman sekelas sekaligus teman se-geng Lana yang lain. “Ngapain lo senyum-senyum sambil ngangguk gitu? Ngelamun apaan? Hayo, pagi-pagi udah ngelamun jorok, ya?” Cerocos Rasti. “Sembarangan, gue lagi ngayal [...]
“Bu Ranti tidak berkenan?” Tanyanya. Sopan sekali. “Maksudmu?” “Menjadi teman bicara saya.” Saga berbicara tanpa menatapku. “Tentu saja tidak begitu. Aku malah merasa senang kamu mempercayaiku.” Saga menoleh, tersenyum tipis. “Bintang Bu Ranti apa?” “Cancer. Kamu?” “Aries.” Oh, pantas! Setahuku mereka yang berbintang aries itu berhati keras, agak semaunya dan berjiwa petualang. Kebebasan adalah napasnya. [...]
“ Kadang-kadang. Tapi aku selalu berusaha mengikuti logikaku. Bukankah itu termasuk yang penting dalam pelajaran di akademi ?” Martin menggerakkan ujung mulutnya. Mungkin ia tersenyum tadi, tapi wajahnya tetap serius dan datar. “ Itu juga yang kupelajari. Tapi sekali waktu aku merasa menemui jalan buntu, aku mengandalkan firasat. Persis seperti hewan yang terjepit.” Si wajah [...]