Produk asuransi syariah berbasis wakaf dinilai menjadi tawaran yang menarik bagi masyarakat beragama Islam di Indonesia. Sebab, ini menjadi solusi yang mudah dengan menawarkan banyak manfaat pada nasabah.

Tidak hanya memberikan proteksi manfaat asuransi tetapi juga sekaligus menyediakan pilihan wakaf bagi nasabah. Sehingga nasabah yang tidak memiliki aset berupa tanah atau bangunan, tetap bisa berwakaf untuk mendapatkan pahala dan menebarkan manfaat bagi sesama.

Ketua Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) Ahmad Sya’roni menyebut bahwa wakaf dalam asuransi syariah punya potensi besar untuk berkembang di Indonesia. Terlebih mayoritas penduduk Indonesia merupakan terbesar di Indonesia.

karakteristik wakaf

Dalam agama Islam, wakaf merupakan bentuk kedermawanan dengan memberikan manfaat yang berlanjut pada masyarakat banyak, sehingga pemberi wakaf (wakif) dijanjikan pahala yang tidak terputus layaknya sedekah jariyah hingga dia meninggal dunia.

Karakteristik Wakaf dan Tugas Nazhir

Ada beberapa karakteristik dari wakaf yang harus kamu ketahui, yaitu:

  1. Manfaatnya jangka panjang
  2. Bersifat sukarela dan hartanya produktif untuk kepentingan dan kesejahteraan masyarakat.
  3. Memiliki nilai guna bagi orang yang mewakafkan (wakif) saat meninggal dunia
  4. Nilai ekonominya tidak berkurang dan harus dikembangkan sesuai dengan prinsip syariah.

Lembaga yang pengelola harta wakaf punya beberapa tugas saat mengelola dan mengembangkan harta tersebut, yaitu:

  1. Melakukan administrasi pada harta benda wakaf
  2. Mengawasi dan juga melindungi harta benda wakaf
  3. Mengelola dan mengembangkan harta benda wakaf sesuai amanah
  4. Serta melaporkan pelaksanaan pengelolaan harta wakaf tersebut pada Badan Wakaf Indonesia (BWI).

Semakin banyaknya produk wakaf asuransi syariah ini dilatarbelakangi oleh diluncurkannya Fatwa MUI Nomor 106/DSN-MUI/X/2016 yang mengatur mengenai wakaf manfaat asuransi dan manfaat investasi yang ada pada asuransi jiwa syariah.

Produk asuransi syariah yang dimaksud berupa polis yang nilai dan manfaatnya diwakafkan oleh tertanggung utama dengan syarat harus sepengetahuan dari ahli waris.

Dalam konteks ini perusahaan asuransi syariah merupakan nazhir yang berperan sebagai penerima dan pengelola wakaf uang, serta sebagai penyalur hasil investasi. Yang perlu diingat adalah bahwa dana wakaf hasrus menjadi aset tetap yang sifatnya abadi dan harus produktif untuk menghasilkan manfaat. Inilah tugas dari nazhir untuk mengembangkan dan mengelola harta wakaf.

Potensi wakaf uang di Indonesia cukup tinggi, Menurut BWI, potensi wakaf di Indonesia mencapai Rp 180 triliun. Meskipun pada 2017 total dana yang terhimpun baru mencapai Rp 400 miliar. Sedangkan menurut data dari Bank Indonesia, sektor sosial yang mencakup wakaf memiliki potensi setara dengan 3,4 persen dari PDB Indonesia atau sekitar Rp 217 triliun. Sehingga angka ini dinilai dapat memainkan peran penting mempercepat pembangunan ekonomi dan juga mendukung kestabilan keuangan negara.

Ini juga akan berbanding lurus dengan pertumbuhan dalam industri asuransi ke arah yang lebih baik. Terlebih karena produk wakaf asuransi syariah ini merupakan produk yang spesifik dan hanya berlaku di asuransi syariah saja.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here